Pengalaman dan kerjasama team yang luar biasa bersama ALZI Nederland

Bahasa Indonesia:

3 bulan sudah kami berproses dan berkolaborasi bersama dalam acara Melody Memory Project (MMP) yang merupakan bentuk kerjasama SV UGM, Stichting Alzheimer Indonesia Nederland dan Balai Budaya Minomartani. Program MMP ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mempromosikan kualitas hidup untuk mengantisipasi Alzheimer dengan menyatukan kesehatan dan kesenian, dalam hal ini bermain gamelan. Secara teknis MMP diorganisir oleh Tim Project-based Learning (PBL) mahasiswa di bawah Center for Excellence in Culture and Tourism (CoE CT) SV UGM dengan keseluruhan anggota merupakan mahasiswa yang berasal dari Departemen Bahasa, Seni dan Manajemen Budaya (DBSMB).

Acara ini digelar di Balai Budaya Minomartani memiliki sasaran yaitu para lansia yang tergabung dalam grup karawitan Metri Budaya. MMP dihelat setiap hari minggu selama bulan Juni hingga September. Dalam pelaksanaanya, saya Fauzia Erbin Pebriarina selaku koordinator beserta teman-teman anggota yang lain bahu-membahu mempersiapkan segala acara yang berbeda tiap minggunya. Kami datang sepagi mungkin untuk mempersiapkan ruangan, membuka semua jendela memastikan sirkulasi udara berjalan dengan lancar, mempersiapkan alat-alat gamelan agar siap digunakan ketika grup Metri Budaya datang. Terlebih lagi ketika jadwal cek kesehatan dan pembagian vitamin, kami harus menghubungi berbagai pihak seperti perwakilan dari Grup Metri Budaya, petugas puskesmas yang bertugas mengecek kesehatan pada hari itu, hingga membantu merekap hasil cek kesehatan seluruh lansia. Namun, sebagai seorang mahasiswa rantau saya paling suka bagian ini, karena para mahasiswa juga mendapatkan giliran untuk melakukan pengecekan kesehatan dan yang terpenting, GRATIS!

Setelah membuka acara dan Grup Karawitan mulai memainkan gendhing, kami para mahasiswa mulai mempersiapkan agenda selanjutnya, yaitu istirahat yang dilanjutkan dengan Brain Gym. Kami membagikan snack dan air mineral kepada seluruh lansia anggota Grup Metri Budaya. Yang menarik disini adalah para lansia dilatih untuk selalu membawa kotak tempat snack dan botol minum milik masing-masing yang sudah dibagikan sejak hari pertama memulai program. Selain mengurangi sampah plastik, hal ini dapat melatih daya ingat para lansia dengan kebiasaan melakukan hal-hal kecil di lingkungan mereka.

Supaya acara lebih semarak, kami memutarkan video edukasi tentang lansia, hiburan, hingga games bersama. Pada akhir acara selalu kami tutup dengan melakukan Brain Gym bersama-sama. Kami mulai berjejer di barisan depan untuk memandu gerakan. Para lansia juga dapat melihat video gerakan tersebut melalui proyektor yang sudah kami siapkan. Gelak tawa tak terhindarkan ketika menyadari beberapa lansia bersusah-payah mengikuti gerakan Brain Gym yang semakin cepat. Seluruh peserta mengikuti gerakan dengan antusias dan bersemangat.

“MPP ini memberikan pengalaman yang sangat berharga karena kami bisa langsung mengabdi ke masyarakat terutama para lansia. Jadi lebih aware dengan keluarga yang sudah lansia juga. Walaupun lelah dan pusing tapi worth it”, kata Diva, anggota PBL bidang konsumsi dan logistik. “Senang juga bisa belajar dengan teman-teman, menambah relasi,  pengalaman,  dan memahami karakter orang lain”, tambah Dina, anggota PBL bidang acara.

Kehujanan saat membeli logistik, kepanasan kesana kemari membeli barang yang tak kunjung dapat, hingga hampir menginap di Balai Budaya Minomartani karena mempersiapkan live streaming pun pernah kami jalani. Namun, setelah melihat antusiasme dan keceriaan para lansia dalam mengikuti acara ini membuat kami semakin bersemangat merancang acara untuk minggu-minggu berikutnya. Kegiatan ini menjadikan kami sadar bahwa ada orang-orang yang memerlukan perhatian khusus di sekitar kami, yaitu lansia dengan kemungkinan penyakit Alzheimer dan Demensia yang mungkin dideritanya. Karena jika tiba waktunya nanti, kita semua pasti akan mengalami fase itu, menua.

Saya dan kami semua yakin apa yang telah kami lakukan pasti akan memberikan manfaat bagi kami secara pribadi, akademisi, dan semoga bagi masyarakat terutama lansia. Project ini mengajarkan arti bagaimana bekerja dengan team yang memiliki berbagai karakter dan kesibukan yang beranekaragam, bagaimana berkomunikasi dengan orangtua, dan bagaimana cara problem solving yang baik.

Terimakasih ALZI Ned atas pelajaran yang luar biasa, pengalaman kolaborasi ini tak akan kami lupa.

(Text dan foto: Fauzia Erbin Pebriarina)

English

Great experience and teamwork with ALZI Nederland

We have been processing and collaborating together for 3 months in the Melody Memory Project which is a form of collaboration between SV UGM, Stichting Alzheimer Indonesia Nederland, and the Minomartani Cultural Center. The MMP program is implemented with the aim of promoting quality of life to anticipate Alzheimer’s by uniting health and the arts, in this case playing gamelan. Technically, MMP is organized by the Student Project-based Learning (PBL) Team under the Center for Excellence in Culture and Tourism (CoE CT) UGM SV with all members being students from the Department of Language, Arts and Cultural Management (DBSMB).

This event was held at the Minomartani Cultural Center with the target of the elderly who are members of the Metri Budaya musical group. MMP is held every Sunday from June to September. In the implementation, Fauzia Erbin Pebriarina as the coordinator along with other members worked in a team to prepare different events every week. We came as early as possible to prepare the room, opened all the windows to ensure the air circulation, and prepared the gamelan instruments to be ready for use when the Metri Budaya group arrived. Not to mention when to schedule checks and distribution of vitamins, we have to contact various parties such as representatives from the Metri Budaya Group, puskesmas officers to monitor their health. However, as an overseas student I like this part the most, because students also get their turn to do health checks and most importantly, it’s FREE!

After we opened the event and the Karawitan Group started playing gendhing, we began to prepare for the next agenda, break time which was followed by Brain Gym. We distributed snacks and mineral water to all elderly members of the Metri Budaya Group. What’s interesting here is that the elderly are trained to always carry their respective snack boxes and drinking bottles that have been distributed since the first day of starting the program. In addition to reducing plastic waste, this can train the memory of the elderly with the habit of doing small things in their environment.

To make the event livelier, we played educational videos about the elderly, entertainment, and games together. At the end of the event we always close by doing Brain Gym together. We started lining up in the front row to guide the movement. The elderly can also see a video of the movement through the projector we have prepared. Laughter was unavoidable when we realized that some of the elderly were struggling to keep up with the rapidly accelerating movements of the Brain Gym. All participants followed the movement with enthusiasm and enthusiasm.

“This MPP provides a very valuable experience because we can directly serve the community, especially the elderly. So be more aware with elderly families too. Although tired and dizzy, it was worth it!” Diva said, a member of PBL in the field of consumption and logistics. “It’s also nice to be able to learn with friends, add relationships, experience, and understand other people’s characters.” Added Dina, a member of the PBL for events.

It was raining when we bought logistics, it was too hot here and there to buy things that we couldn’t get, until we almost stayed at the Minomartani Cultural Center because we even had to prepare for live streaming. However, after seeing the enthusiasm and participation of the elderly in participating in this event, it made us even more excited to plan events for the following weeks. This activity made us aware that there are people who need more attention around us, namely the elderly with possible Alzheimer’s and Dementia diseases that they may suffer from. Because when the time comes, we will all experience that phase, aging.

I and all of us believe that what we have done will certainly provide benefits for us personally, academically, and hopefully for the community, especially the elderly. This project teaches the meaning of how to work with a team that has various characters and diverse activities, how to communicate with parents, and how-to do-good problem solving.

Thank you ALZI Ned for the wonderful lessons, we will never forget this collaborative experience.

(Text and photo by Fauzia Erbin Pebriarina)

Zomerkamp Breinspoken (Perkemahan Musim Panas ‘Hantu Otak’) – Summer Camp ‘Brain Ghost’

BAHASA INDONESIA

Beberapa tahun terakhir insidensi young-onset dementie di Belanda bertambah dengan pesat. Gejala dari young-onset dementie biasanya berbeda dengan gejala demensi yang pada umumnya terjadi pada usia tua. Young-onset dementie berdampak besar terhadap keluarga dan khusus terhadap anak-anak. Anak-anak dimana orang tuanya terdiagnosis young-onset dementie, tumbuh dalam situasi sulit dan berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Pada tanggal 12 – 15 Agustus 2022, Alzheimercentrum Amsterdam mengadakan kegiatan Perkemahan Musim Panas (Zomerkamp) khusus untuk anak-anak dimana salah satu orang tuanya adalah orang dengan demensia. Summer camp ini bertema “Samen strijden tegen breinspoken” (Bersama berperang melawan hantu otak).

Dalam acara ini, anak-anak dari ODD bertemu dengan anak-anak lain yang dibesarkan dalam situsi yang sama. Mereka saling bertukar informasi dan pengalaman mengenai keadaan di rumah. Mereka juga bersama-sama melakukan aktivitas aktvitas menarik dimana mereka bisa sesaat melupakan keaadaan “sulit” di rumah dan menjadi anak-anak seperti anak-anak pada umumnya.

Agnes Djamianto, salah satu champion ALZI Ned, memiliki kesempatan untuk berpartisipasi di acara ini. Dia membagikan ceritanya di tulisan berikut.

Bersama-sama dalam perang melawan hantu otak

Sebagai anak dari orang tua dengan demensia di usia muda, Anda tumbuh dalam keadaan yang berbeda dan mempunyai banyak kekhawatiran.  Anak yang memiliki orang tua dengan demensia seringkali merasa minder karena banyaknya tantangan dalam keluarga.  Selain itu, para pengasuh muda ini memiliki tanggung jawab yang tidak sesuai dengan usia dan perkembangan mereka. 

Di zomerkamp ini, anak-anak dan orang tua yang sehat bertemu, bertukar informasi, berbicara tentang pengalaman mereka di rumah dan melakukan kegiatan bersama dan menikmati saat-saat santai. Ada kurang lebih 40 orang peserta dan 7 orang pembimbing. Usia anak-anak yang ikut kegiatan ini bervariasi dari 4 hingga 22 tahun (usia peserta termuda adalah 4 tahun).

Mengikuti kamp ini, hati saya trenyuh. Saya mendengar perjuangan keluarga-keluarga muda yang pasangannya harus melalui perjalanan panjang untuk dapat akhirnya diagnosa Alzheimer atau penyakit demensia lainnya. Usia yang masih tergolong muda, kadang membuat dokter lebih memandang mereka terkena burt-out atau depresi.

Anak-anak mendapatkan kesempatan untuk berbicara sesuai dengan kelompok usianya. Mereka membicarakan berbagai hal, seperti: ketakutan mereka, bully, merasa tak dimengerti. Kami sebagai orang tua yang sehat juga mendapat banyak kesempatan untuk mengobrol dan tanya jawab dalam group.

Di hari ke 2, ada dokter Sven dari Alzheimer Centrum yang datang memberikan penjelasan tentang otak kita dengan cara yang sangat mudah dimengerti oleh anak-anak. Dia bahkan membawa otak asli dari yang terkena demensia dan otak yang sehat. Selain itu, ada banyak aktivitas yang kami lakukan bersama. Ada kayak, membuat float, climbing, BBQ, dan lain sebagainya.

Selama ini sangat sulit bagi saya untuk bertemu dan bertukar pikiran dengan orang yang mempunyai situasi yang sama: Alzheimer dengan posisi anak-anak masih kecil dan usia produktif. Tantangan saya berbeda dengan tantangan mayoritas keluarga penderita Alzheimer. Begitu juga acara atau kegiatan yang sudah ada, kebanyakan sasarannya berbeda dengan saya.  Oleh karena itu, saya pribadi sangat bersyukur bisa ikut serta di acara ini.

ENGLISH

Summer Camp ‘Brain Ghost’

In recent years the incidence of young-onset dementia in the Netherlands has increased rapidly. The symptoms of young-onset dementia are usually different from those of dementia that generally occur in old age. Young-onset dementia has a major impact on families and especially on children. Children whose parents are diagnosed with young-onset dementia grow up in difficult situations and are different from children in general. On 12 – 15 August 2022, Alzheimer centrum Amsterdam was holding a special Summer Camp for children where one of the parents is a person with dementia. This summer camp was themed “Samen strijden tegen breinspoken” (Fighting together against brain ghosts).

During this event, children of people with dementia met other children who grow up in the same situation. They exchanged information and experiences about the situation at home. They also did interesting activities together where they could forget the “difficult” situation at home for a while and became children like children in general.

Agnes Djamianto, one of ALZI Ned’s champions, had the opportunity to participate in this event. She shared her story in the following article.

Together in the fight against Brain Ghosts

As a child of a parent with dementia at a young age, you grow up in different circumstances and have many worries. Children who have parents with dementia often feel inferior because of many challenges in their family. In addition, these young caregivers have responsibilities that are not appropriate for their age and development.

In this summer camp, healthy children and parents had the opportunity to meet, exchange information, talk about their experiences at home, do activities together, and enjoy relaxing moments. There were approximately 40 participants and 7 mentors. The ages of the children participating in this activity varied from 4 to 22 years (the youngest participant was 4 years old).

My heart trembled during this camp. I heard about the struggles of young families whose partners had to go through a long journey only to be eventually diagnosed with Alzheimer’s or another form of dementia. Because of their relatively young age, doctors sometimes considered them burnout or depression.

The children got a chance to speak according to their age group. They talked about different things, such as; their fears, bullying, and not feeling understood. We, healthy parents, also got a lot of opportunities to chat and ask questions in the group.

On the 2nd day, Dr. Sven from the Alzheimer’s Centre came to explain about our brains in a way that was very easy for children to understand. He even brought real brains from people with dementia and healthy brains. There were also many activities we could do together. There were kayaking, float making, climbing, BBQ, and so on.

So far, it was very difficult for me to meet and exchange ideas with people who have the same situation: Alzheimer’s at productive age with the position of children who are still young. My challenge is different from that of the majority of families with Alzheimer’s. Likewise, the existing events or activities, most of them have different goals from mine. Therefore, I am personally very grateful to be able to participate in this event.

Penulis/Writer: Agnes Djamianto, Champion ALZI Nederland

Ceritaku – ADI Conference London 2022

Bulan Juni lalu, saya berkesempatan untuk mengikuti konferensi Alzheimer Disease Internasional (ADI) 2022. Sebuah pengalaman yang berharga yang ingin saya bagikan melalui blog ALZI Ned.

Sebelum Konferensi

Akhir tahun 2021, kak Tania, kak Amalia dan saya menulis 3 buah abstrak untuk dikirimkan ke konferensi ini. Di bulan Februari kami mendapat info bila semua abstrak diterima. Satu abstrak diterima sebagai oral presentation dan dua lainnya sebagai poster presentation. Berbekal abstract acceptance ini, kami mencari beasiswa dan mendapatkan dukungan dari ALZI dan ALZI Ned untuk dapat menghadiri konferensi in-person di London.

Keputusan untuk datang beberapa hari sebelum konferensi dimulai merupakan hal yang positif bagi saya. Dulu, ketika saya belum menikah dan masih tinggal di Jogja, saya cukup sering harus bekerja di luar kota (yang cukup jauh dari Jogja) seperti di Pati, Padang, Nusa Tenggara Barat maupun Aceh. Jadi perjalanan ke London ini adalah kesempatan nostalgia bagi saya untuk berpetualang sendirian. Selain itu, saya belum pernah pergi ke London^^.

Perjalanan Rotterdam – London ternyata hanya ditempuh selama 3 jam dengan kereta. Setelah tiba di St. Pancras International, saya langsung melanjutkan perjalanan menggunakan Tube hingga East Finchley dan berjalan kaki menuju akomodasi. Di akomodasi sudah menunggu rekan-rekan dari Indonesia, kak Michael, kak Lely dan kak Irma. Esok harinya datanglah kak Amalia, kak DY, kak Tania, dan kak Fifi. Sungguh pertemuan yang mengharukan. Kami belum pernah bertemu satu sama lain secara fisik (kecuali dengan kak Amalia dan kak Tania tentunya^^), namun merasa sudah kenal lama. Kami menggunakan waktu yang ada untuk saling mengenal, mempersiapkan konferensi bersama-sama, menyusuri kota London, serta berbagi informasi tentang demensia kepada diaspora Indonesia yang tinggal di London.

Sehari sebelum konferensi berlangsung, saya juga berkesempatan untuk mengikuti meeting perwakilan Asia Pasific. Di rapat tersebut dibahas mengenai kerja sama Asia Pasific dan apa saja hal-hal yang telah dicapai dalam penanganan demensia. Pada kesempatan ini, kami juga berlatih tari Poco-Poco Ceria. Tarian ini akan kami bawakan di akhir agenda opening ceremony konferensi ADI.

Hari Konferensi

Hari 1

Kami datang lebih awal karena kami ikut dalam lomba showcase. Di dalam lomba ini, panitia menyediakan stand informasi yang bisa didekorasi. Setiap pengunjung berhak memilih stand yang paling menarik dan informatif. Kami bekerja sama menghias stand ini dengan informasi tentang Alzheimer Indonesia. Selain itu, kami juga perlu memasang 3 poster ALZI Ned. Setelah semuanya selesai, kami segera menuju ruang 175 Suite dimana opening ceremony segera dilaksanakan.

Mungkin lebih dari 400 orang menghadiri acara pembukaan konferensi secara live. Ini adalah kali pertama saya menghadiri acara yang dihadiri oleh ratusan orang setelah 2 tahun terbiasa dengan kegiatan online karena pandemi. Awalnya ada rasa canggung untuk kontak fisik dengan ratusan orang, namun pada akhirnya saya sangat menikmati dan memang kangen sekali mengikuti agenda fisik. Banyaknya harapan bagi penanganan demensia yang lebih baik mengawali acara pembukaan. Di akhir sesi, saya bersama rekan-rekan dari Indonesia dan beberapa rekan dari Asia Pasific menari Poco-Poco di atas panggung. Benar-benar pembukaan yang meriah.

Poco-poco ceria oleh Alzheimer Indonesia turut memeriahkan pembukaan ADI 2022

Ada banyak tema yang bisa diikuti dan dipelajari dalam konferensi ini, antara lain: demensia sebagai prioritas kesehatan publik; kesadaran akan demensia; diagnosis, terapi dan perawatan demensia; penelitian inovasi terkait demensia; pengurangan risiko demensia; dan juga dukungan bagi caregivers. Di hari pertama ini, saya belajar banyak dari kebijakan nasional dan global, intervensi non-farmakologis, pentingnya kerja sama di dalam komunitas serta pentingnya diagnosis dini dalam demensia.

Suasana salah satu sesi di ADI 2022

Hari 2

Peningkatan kualitas hidup orang dengan demensia (ODD) adalah salah satu tujuan dalam konferensi ini. Namun tanpa adanya kesadaran di komunitas, tujuan ini akan sulit dicapai. Di hari kedua saya belajar tentang pentingnya kesadaran komunitas atau dementia friendly communities, bagaimana kita bisa memperkuat dukungan bagi ODD, keluarganya serta caregivers.

Menjalin kontak dengan peserta lain juga menjadi tujuan ikut serta dalam konferensi ini. Saya berkesempatan untuk berkenalan serta berbagi cerita tentang demensia dengan perwakilan Alzheimer Nederland, perwakilan dari Mauritsius, Australia, India, UK, Belgia, Yordania, serta negara-negara di Amerika Latin. Peserta konferensi datang dari beragam latar belakang, seperti peneliti, pendidik, pelajar, tenaga kesehatan, pekerja seni, pemerhati demensia dan juga ODD. Saya sangat terharu melihat beberapa ODD yang terlibat aktif dalam konferensi ini.

Tania bersama Emily Ong (ADI Board dan Orang Dengan Demensia) dari Singapura di depan presentasi poster

Hari 3

Keterlibatan saya dalam kegiatan di ALZI Ned bukanlah sesuatu yang tidak disengaja. Dalam pendidikan master yang saya tempuh di Universitas Leiden, saya mempelajari tentang penuaan, kesejahteraan lansia dan organisasi lansia. Manusia tidak bisa melihat masa depan. Namun, menjadi tua adalah sesuatu hal yang sudah pasti di masa depan kita. Oleh karena itu kita bisa persiapkan dengan baik. Ketika tahun lalu saya mendengar bahwa ibu mertua saya terdiagnosis demensia, saya menjadi yakin bahwa belajar lebih dalam mengenai perawatan demensia adalah suatu kewajiban bagi saya. Dengan demikian saya bisa mempersiapkan hari tua, mendukung keluarga dengan demensia, serta meningkatkan kesadaran publik akan demensia.

Di hari ketiga konferensi saya semakin diperlengkapi dengan informasi mengenai penelitian terkait pengurangan risiko demensia dan tantangannya, support untuk ODD, serta pentingnya pelatihan bagi tenaga kesehatan maupun caregivers. Topik-topik di atas membuat saya semakin tertarik untuk mendapatkan serta terlibat aktif dalam pelatihan baik di Belanda maupun Indonesia mengenai perawatan demensia maupun komunitas ramah demensia.

Team ALZI mendapat kesempatan luar biasa di hari ketiga ini untuk melakukan workshop tentang brain gym dan Poco-Poco. Setelah hampir selama tiga hari menghabiskan sebagian besar waktu untuk belajar sambal duduk, ini adalah kesempatan bagi peserta konferensi untuk bersama-sama berolah raga. Dipandu oleh kak Lely dan kak Irma, puluhan peserta konferensi melakukan brain gym dan tari poco-poco. Gerakan salah bukanlah masalah, karena yang paling penting adalah bergerak dan bergembira bersama-sama. Di sesi ini semua bergerak dan tertawa lepas. Sebuah sesi yang ceria di penghujung konferensi formal di London.

Konferensi ADI 2022 ditutup dengan agenda pleno yang membahas tentang tantangan ke depan dalam hal data, penelitian, inovasi dan terapi. Dalam upacara penutup, peserta dihibur dengan sebuah tarian klasik. Team ALZI bersorak bahagia ketika stand ALZI diumumkan menjadi stand favorit dalam konferensi ADI 2022.

Tim ALZI Nederland dan Alzheimer Indonesia beserta pengunjung stand dari berbagai negara seluruh dunia

Setelah Konferensi

Team ALZI menutup konferensi dengan makan malam bersama. Kami memilih sebuah food court yang menyediakan berbagai macam makanan sehingga kami bisa memilih sendiri makanan kesukaan kami. Sambil makan kami berdiskusi dan berbagi mengenai hal positif serta tantangan di dalam mengikuti konferensi internasional.

Keputusan menghadiri konferensi secara in-person merupakan keputusan yang tepat bagi saya. Ada banyak hal yang bisa saya pelajari dalam perjalanan kali ini. Saya belajar menulis abstrak, mencari beasiswa, presentasi, dan kerja sama. Saya dapat kembali bertemu dan bekerja bertiga dengan kak Amalia dan kak Tania (kolega yang hampir setiap hari kontak mengurus kegiatan ALZI Ned via WA namun terpisah jarak dan waktu), berkenalan dengan rekan-rekan ALZI pusat yang juga menghadiri konferensi ini, belajar mengenai penatalaksanaan demensia dari berbagai negara, networking dan juga membawa harum nama Indonesia. Ilmu yang saya dapatkan selama konferensi tidak akan sia-sia dan akan saya praktekkan dalam memberi dukungan bagi keluarga dan lingkungan di mana saya tinggal.

Keesokan harinya saya sudah harus meninggalkan London. Pukul 06:00 pagi saya sudah meluncur ke St. Pancras International dengan Uber dan melanjutkan perjalanan pulang ke Belanda dengan kereta.

Terima kasih ALZI dan ALZI Ned untuk kesempatan ini. Terima kasih ibu Sari, Budhe, kak DY, kak Mike, kak Lely, kak Irma, kak Fifi, kak Amalia dan kak Tania untuk kenangan indahnya di London.

ALZI Nederland team ( ki-ka: Tania, Amalia dan Manik)

Salam Jangan Maklum Dengan Pikun!

Penulis

Manik Madijokromo – Kharismayekti

Achter de schermen bij een lokale gemeenschap van de Metri Budaya Group

Nederlands:

3 Juli 2022, Yogyakarta 

Vandaag was ik uitgenodigd om deel uit te maken van het gemeenschapsdienstproject van de Metri Budaya Group in het Minomartani Cultureel Centrum in Yogyakarta. De gemeenschap komt hier twee keer per week samen om het traditionele instrument de ‘Gamelan’ te bespelen. De repetitie vindt plaats in een prachtig oud pand met traditionele glas-in-lood afbeeldingen. De oudere leden van de gemeenschap worden door studenten van de Vocational College, Universitas Gadjah Mada, welkom geheten voor een praatje voordat iedereen achter zijn eigen instrument plaatsneemt. Alles ontstaat organisch, de interactie tussen leden, het vinden van hun eigen plek op de grond en het openen van hun boekjes met de ‘noten’ voor hun specifieke instrument. Ze beginnen te spelen. Een harmonieuze en gesynchroniseerde melodie verlicht de kamer. Ze zingen en spelen in volle concentratie en de groep studenten kijkt bewonderend vanaf de grond toe. Na het tweede nummer staan ​​een aantal dames spontaan op, binden hun ‘selendang’ om en maken zich klaar om te dansen. Prachtig gecontroleerde en sierlijke bewegingen laten een traditionele dans zien die helemaal synchroon loopt met de melodie van de Gamelan, ik kan bijna niet geloven dat ik naar een lokale gemeenschap kijk omdat het er zo professioneel uitziet.

Tijdens de pauze is er tijd voor een hapje en een praatje, het voelt als een gezellige familiebijeenkomst. Na de pauze zijn de studenten aan de beurt door een ‘brain game’ op het scherm voor te bereiden. Iedereen doet mee aan het imiteren van de handgebaren op het scherm die steeds sneller gaan. Dit is eigenlijk moeilijker dan je denkt, maar we lachen samen als de bewegingen te snel gaan om bij te houden. Het is bijzonder om te zien hoe jong en oud hier samenkomen, kinderen spelen, dames dansen, mannen drummen en ouderen spelen de Gamelan met verbazingwekkende gratie en het komt allemaal samen in het samen genieten van de muziek. We sluiten het evenement af met een groot applaus, een aantal uitingen van waardering en natuurlijk een groepsfoto!

Wat dit evenement zo speciaal maakt, is de versmelting van de lokale gemeenschap met traditionele muziek, maar ook met de nieuwe generatie studenten die zich ermee verbinden, ervan leren en deel gaan uitmaken van deze gemeenschap. De studenten van de Vocational College UGM bereiden elke week een andere activiteit voor en houden de community leden gemotiveerd om te komen en te blijven voor muziek. Waarmee ze proberen bij te dragen ​​aan het voorkomen van geheugenverlies en dus Alzheimer. Ondertussen leren studenten over de traditionele muziek en culturele context die betrokken zijn bij het bespelen van dit traditionele instrument, waardoor hun gevoel voor cultureel erfgoed wordt verbreed. Het is een geweldig voorbeeld van een prachtig project voor betrokkenheid van de gemeenschap

Geschreven door Kim Voogdt, stagiair bij UGM van de Universiteit Utrecht (Nederland)

‘Brain game’ verzorgd door de studenten Vocational College UGM
Muziek en dans komen samen bij de Metri Budaya Group tijdensj het spelen van de Gamelan.
Oudere leden van de gemeenschap spelen de Gamelan in het Minomartani Cultural Center.

English:

Behind the scenes at a local community of the Metri Budaya Group

Today I was invited to be part of the community service project of the Metri Budaya Group in the Minomartani Cultural Center in Jogja. The community meets here twice a week to play the traditional instrument the ‘Gamelan’. The practice takes place in a beautiful old building with traditional window glass pictures. The elderly community members are welcomed by students of the vocational college UGM for a chat before everybody takes place behind their own instrument. Everything arises organically, greetings among the members, finding their own place on the ground and opening their booklets with the ‘notes’ for their particular instrument. They start to play. A harmonious and highly synchronized melody lights up the room. They sing and play in full concentration and the group of students watches from the ground with admiration. After the second song, a number of ladies spontaneously stands up, tie their ‘selendang’ on and get ready to dance. Beautifully controlled and graceful movements show a traditional dance that is completely in sync with the melody of the Gamelan, I can hardly believe that I am watching a local community because it looks so professional.

During the break there is time for a snack and a chat, it feels like a family gathering. After the break, the students take their turn by preparing a ‘brain game’ on the screen. Everyone participates in imitating the hand gestures on the screen that go faster and faster. This is actually harder than you think, but we laugh together when the movements go too fast to keep track. It is special to see how young and old come together here, children play, ladies dance, men play the drums and the elderly play the Gamelan with amazing grace and it all comes together in enjoying the music together. We close the event with great applause, a number of expressions of appreciation and of course a group picture!

What makes this event so special is the fusion of the local community with traditional music, but also with the new generation of students who connect to it, learn from it, and become part of this community. Vocational college students prepare a different activity every week and keep the community members motivated to come and stay for music. Which in turn contributes to the prevention of memory loss and thus Alzheimer. Meanwhile, students learn about the traditional music and cultural context involved in playing this traditional instrument, broadening their sense of cultural heritage. It is a great example of a beautiful working community engagement project.

Written by Kim Voogdt, intern at UGM from Utrecht University (the Netherlands)

Brain game’ provided by the students Vocational College UGM

Music and dance come together in the Metri Budaya Group when playing the Gamelan.

Elderly community members playing the Gamelan at the Minomartani Cultural Center.

Zinvolle middag bij Raffy Breda

Nederlands:

04 mei 2022

Na enige tijd van communicatie tussen Raffy en ALZI Ned, kwamen op 4 mei 2022 Umi Lusia, Amalia en ik op bezoek in het Woonzorgcentrum Raffy. Woonzorgcentrum Raffy is een verpleeghuis in Breda dat huisvesting, verzorging, dagbesteding en thuiszorg biedt aan ouderen met een Indische en Molukse achtergrond. Toen ik op de locatie aankwam, bleek dat Umi Lusia al was gearriveerd. We hebben gewacht op Amalia’s komst terwijl we foto’s maakten van de wachtkamer waar ik heimwee van kreeg. Hoe kan het ook anders, toen ik de wachtkamer binnenkwam, trof ik onmiddellijk angklung, batik, houten poppen, en het aroma van koken, aan.

Toen we met z’n drieën compleet waren, werden we meteen begroet door Wilma Broeders. Wilma nam ons direct mee naar Raffy’s restaurant voor de lunch. Niet lang daarna kwam Astrid Coppus erbij zitten. Ik lachte me rot toen het aangeboden menu voor de lunch rijst was hahahaha. Het is ongebruikelijk dat in een Nederlands instituut een warm rijstmenu, compleet met groenten en bijgerechten, als hoofdmenu voor de lunch wordt geserveerd. We bestelden met z’n vieren witte rijst, sperziebonen, en kip paniki. Erg lekker ^^. Ik had ook de kans om twee oudere mensen te begroeten die naast onze tafel zaten en hetzelfde menu hadden besteld… ze aten gulzig en zeiden ook “het is heerlijk”. Tijdens het eten vertelden Wilma en Astrid over Raffy’s organisatie en haar geschiedenis.

Na het eten werden we uitgenodigd om rond te lopen om de situatie bij Raffy te bekijken. We zagen een heleboel ornamenten met een Indonesisch thema. Balinese schilderijen, traditionele kleding, Indonesische landkaarten, standbeelden, en nog veel meer lijken de muren en hoeken van de kamer te sieren. Ik herinner me het verhaal over opgestapelde koffers dat door Dara op ALZI Ned’s blog werd geschreven toen zij Rumah Kita bezocht. We vonden ook stapels ongeopende koffers bij Raffy.

Er was een open kamer toen we door een afdeling liepen. We werden binnengelaten door de bewoonster. Een oudere vrouw begroette ons in het Indonesisch en vertelde ons dat zij uit West-Java kwam. Umi Lusia, die goed Sundanees spreekt, knoopte onmiddellijk een gesprek aan met deze vrouw in het Sundanees. De sfeer werd erg vrolijk in de kamer. Het is fijn als we mensen vinden die in onze moedertaal kunnen communiceren.

Wilma en Astrid namen ons verder mee naar verschillende afdelingen en legden het concept van het gebouw uit om een volledig beeld te geven van de residentiële zorg voor Raffy. De laatste kamer die we bezochten was op de begane grond. Naast de fysiotherapieruimte is er een kleine kamer waar cliënten terecht kunnen voor aanvullende diensten om hun welzijn te verbeteren. Deze kamer heet “Tangan Mas”. In deze ruimte staan massagestoelen en flessen met aromatische etherische oliën. Uit verschillende studies blijkt dat massage en essentiële oliën rust kunnen brengen en een vorm van niet-medicamenteuze interventie kunnen zijn bij angst. Op dat moment stelde ik me de rust voor van het liggen op een massagestoel, het genieten van de aanraking van een schoudermassage, het ruiken van de geur van aromatische oliën en het denken aan het naar Yogyakarta gaan op becak om gudeg te kopen. Aaah ik kreeg gelijk weer heimwee.

Toen we klaar waren met rondwandelen, keerden we terug naar het restaurant en hoorden het geluid van muziek. Mensen verzamelden zich rond een man die op zijn keyboard speelde. Er bleek vandaag muziek op de agenda te staan. Ik waagde het meteen om te vragen of hij me kon begeleiden bij het zingen van Bengawan Solo hahaha. Hij zei dat hij dat kon en dat het lied nog niet gezongen was. Dus ik ging zingen voor het personeel van Raffy, oma’s en opa’s. Ik probeerde op dat moment naar sommige gezichten te kijken. Iedereen was blij. Sommigen zongen mee, anderen bewogen hun handen als dansers. Het samen zingen in Raffy werd mijn kostbare ervaring vandaag.

Thuis … dat was wat me bezighield toen we afscheid namen van Wilma en Astrid. Raffy is een huis geworden dat de ouderen herinnert aan de plaats waar ze geboren of getogen zijn in Indonesië. Raffy brengt een vleugje cultuur in de ouderenzorg om het welzijn van de ouderen te verbeteren.

De geur van de keuken, de vriendelijkheid van het personeel en de bewoners hebben ons ertoe gebracht dit bezoek af te sluiten. We vergaten gelukkig niet om nog een foto te nemen met een becak als Indonesisch icoon. Dit bezoek was voor mij zeer gedenkwaardig. Helaas sluit de winkel die souvenirs verkoopt vroeg op woensdag hahahaha, dus ik kwam niet thuis met Indonesisch eten/snack, maar zijn er veel positieve verhalen over de ouderenzorg. Het zou jammer zijn als deze verhalen er niet werden opgeschreven en verspreid onder veel mensen.

Dank je, Raffy. Met dit bezoek hopen we in de toekomst samen te werken om de kwaliteit van leven voor ouderen met een Indonesische achtergrond in Nederland te verbeteren. Tot een volgende keer.

Bahasa Indonesia:

Siang bermakna di Raffy Breda

4 Mei 2022

Setelah beberapa waktu terjalin komunikasi antara Raffy dan ALZI Ned, pada tanggal 4 Mei 2022, Umi Lusia, Kak Amalia dan saya datang mengunjungi Woonzorgcentrum Raffy. Woonzorgcentrum Raffy adalah sebuah nursing home di Breda yang menawarkan hunian tinggal, perawatan, daycare dan homecare bagi orang tua dengan latar belakang Indisch dan Maluku. Ketika saya sampai di lokasi, Umi Lusia ternyata sudah lebih awal datang. Kami berdua menunggu kedatangan Kak Amalia sambil membuat foto ruang tunggu yang membuat saya rindu pulang kampung. Bagaimana tidak, karena ketika masuk ke ruang tunggu, saya langsung menemukan angklung, batik, boneka kayu dan aroma masakan.

Ketika kami bertiga sudah lengkap, kami langsung disambut oleh Wilma Broeders. Wilma mengajak kami langsung menuju restaurant Raffy untuk makan siang. Tidak lama kemudian, Astrid Coppus datang bergabung. Saya tertawa bahagia ketika menu yang ditawarkan untuk makan siang adalah nasi hahahhahaha. Jarang menu nasi panas lengkap dengan sayur dan lauk disajikan sebagai menu utama makan siang di institusi Belanda. Kami berempat memesan nasi putih, sayur buncis dan ayam paniki. Enak sekali^^. Saya juga sempat menyapa dua lansia yang duduk di sebelah meja dan memesan menu yang sama … mereka makan dengan lahap dan juga mengatakan “het is heerlijk”. Sambil makan Wilma dan Astrid bercerita mengenai organisasi Raffy dan sejarahnya.

Selesai makan, kami diajak berkeliling untuk mengetahui situasi di Raffy. Kami melihat banyak ornamen bertemakan Indonesia. Lukisan Bali, baju daerah, peta Indonesia, patung dan banyak lagi tampak menghiasi dinding dan sudut ruangan. Saya ingat cerita tentang koper yang tertumpuk yang dituliskan oleh kak Dara di Blog ALZI Ned ketika dia berkunjung ke Rumah Kita. Tumpukan koper yang tidak terbuka juga kami temukan di Raffy.

Di saat kami berkeliling ruangan, ada sebuah kamar terbuka dan kami dipersilakan masuk. Perempuan lanjut usia menyapa kami dengan bahasa Indonesia dan bercerita kalau beliau dari Jawa Barat. Umi Lusia yang pandai berbahasa Sunda langsung ngobrol dengan bahasa Sunda. Suasana menjadi ceria sekali di kamar tersebut. Senang rasanya bila kita menemukan orang yang bisa berkomunikasi dengan bahasa ibu yang kita kuasai.

Wilma dan Astrid membawa kami ke beberapa ruangan, menjelaskan konsep bangunan untuk memberi gambaran utuh mengenai woonzorg Raffy. Ruangan terakhir yang kami kunjungi berada di lantai dasar. Berdekatan dengan ruang fisioterapi, ada ruang kecil dimana klien dapat mengakses pelayanan tambahan untuk meningkat kesejahteraan mereka. Ruangan ini bernama “Tangan Mas”. Di ruang ini terdapat kursi pijat dan botol-botol minyak esensial aromatis. Berdasarkan beberapa penelitian, pijat dan minyak esensial bisa memberi ketenangan dan menjadi salah satu bentuk intervensi non farmakologis untuk kecemasan. Saat itu saya membayangkan tenangnya berbaring di kursi pijat, menikmati sentuhan pijat di pundak, mencium bau minyak aromatis dan pikiran melayang ke Yogyakarta beli gudeg naik becak. Aaah aku kembali rindu kampung halaman.

Selesai berkeliling, kami kembali ke restaurant dan mendengar suara musik. Orang berkumpul mengelilingi seorang pria yang sedang memainkan keyboard nya. Ternyata ada agenda musik hari ini. Saya langsung memberanikan diri bertanya apakah beliau dapat mengiringi saya bernyanyi Bengawan Solo hahaha. Beliau bisa dan lagu tersebut juga belum dinyanyikan. Jadilah saya bernyanyi di depan Oma, Opa dan para staff Raffy. Saya mencoba melihat ke beberapa wajah saat itu. Semua bahagia. Sebagian ikut berdendang, sebagian menggerakkan tangannya layaknya penari. Bernyanyi bersama di Raffy menjadi pengalaman berharga saya hari ini.

Rumah … ini yang ada di benak saya ketika kami berpamitan dengan Wilma dan Astrid. Raffy sudah menjadi rumah yang mengingatkan para lansia akan tempat dimana mereka lahir atau dibesarkan di Indonesia. Raffy menghadirkan sentuhan budaya dalam perawatan lansia untuk meningkatkan kesejahteraan lansia.

Aroma masakan, ramah tamah para staff dan penghuni mengantar kami untuk mengakhiri kunjungan ini. Foto dengan becak sebagai ikon Indonesia tak lupa kami lakukan. Kunjungan kali ini sangat berkesan bagi saya. Sayangnya toko yang menjual oleh-oleh tutup cepat pada hari rabu hahahahaha, jadi saya pulang tidak membawa oleh-oleh makanan/snack Indonesia, namun banyak cerita positif tentang layanan lansia. Sayang sekali jika cerita-cerita ini tidak ditulis dan disebarkan ke banyak orang.

Terima kasih Raffy. Dengan kunjungan kali ini, kami berharap bisa bekerja sama di masa depan untuk meningkatkan kualitas hidup lansia dengan latar belakang Indonesia di Belanda. Sampai jumpa lagi ..

anik Madijokromo – Kharismayekt

Community and Communication Coordinator

Stichting Alzheimer Indonesia Nederland

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑