Blog

“Terapi Tertawa” Salah Satu Senjata Relawan Alzi Lombok untuk meningkatkan Kesehatan Lansia

Jumat, 14 Februari 2020

Bertepatan dengan hari kasih sayang yang jatuh pada tanggal 14 Februari 2020, sebanyak 11 relawan ALZI Lombok yang tergabung dari berbagai disiplin ilmu memberikan rangkaian kegiatan untuk para Lansia potensial dan non potensial. Kegiatan ini bertempat di salah satu daerah wisata yang berada di Kabupaten Lombok Barat, tepatnya di Pantai Induk, Kecamatan Gerung. Dalam acara ini terdapat beberapa kegiatan yang diberikan untuk para Lansia, antara lain Senam Lansia, Sosialisasi Demensia Alzheimer untuk para Lansia, Sarapan bersama para lansia dan Terapi tertawa untuk lansia.

WhatsApp Image 2020-02-15 at 12.57.32 (1)

Salah satu kegiatan inti yang dilaksanakan dalam acara ini adalah “Terapi Tertawa” yang diberikan kepada 40 lansia. Terapi tertawa adalah suatu terapi untuk mencapai kegembiraan di dalam hati yang dikeluarkan melalui mulut dalam bentuk suara tawa. Beberapa manfaat Terapi Tertawa adalah merangsang mood, memperbaiki fungsi otak, melindungi jantung, merapatkan hubungan dengan orang lain, melegakan perasaan. Tertawa akan mengurangi tingkat stres tertentu dan menumbuhkan hormon. Selain itu, rasa nyeri atau sakit akan berkurang setelah tertawa. Tertawa juga bisa meningkatkan kekebalan tubuh, sesudah tertawa tubuh terasa rileks dan tenang, sama seperti sesudah berolahraga.

Terapi tertawa sangat cocok diberikan untuk para Lansia, karena salah satu penyebab gangguan mental yang dialami oleh para lansia adalah kecemasan. Dengan terapi tertawa, tingkat kecemasan yang tinggi dapat dikurangi bahkan dihilangkan.

Nurmah (63), salah satu peserta dalam kegiatan ini mengungkapkan, “kegiatan seperti ini kalau bisa dilakukan setiap hari Pak, saya senang bisa tertawa terus. Badan sy terasa lebih enak dan segar, pikiran-pikiran yang jelek juga hilang Pak. Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk kami semua para lansia”.

WhatsApp Image 2020-02-15 at 12.57.45

“Baiq Wida widaswara” selaku Korwil Alzi Lombok menambahkan bahwa, tertawa merupakan cara yang paling baik dan paling ekonomis dalam melawan kecemasan. Terapi tertawa dapat memperlancar peredaran darah  sehingga dapat mencegah penyakit dan memelihara kesehatan. Tertawa juga dapat membantu pola pikir seseorang untuk terus positif, sehingga seseorang dapat terus berpikir secara positif.

Seluruh relawan ALZI Lombok berharap melalui kegiatan seperti “Terapi Tertawa” ini dapat memberikan manfaat untuk para lansia, agar kedepannya seluruh lansia dapat menjadi potensial dengan terus menanamkan nilai-nilai positif didalam dirinya.

Sumber : Iwan Suryadi (Relawan Alzi Lombok)

Cerita dan Tips Budi Darmawan, Mahasiswa Ruhr University of Bochum dan University of Groningen dalam program magang di Alzi Ned

81222015_497338047567174_3475545947478425600_n

Kegiatan internship merupakan salah satu bagian dalam rangkaian kegiatan pendidikan dalam NOHA+ Erasmus Mundus Joint Master’s Degree Programme in International Humanitarian Action. Program master ini dirancang untuk orang yang bekerja atau berniat untuk bekerja di bidang aksi kemanusiaan. Dalam proses belajar mengajar program NOHA (Network on Humanitarian Action), siswa diharuskan menjalani mobilitas belajar di berbagai universitas untuk mendapat manfaat dari pertukaran ide dan interaksi budaya yang beragam. Universitas-universitas mitra yang tergabung dalam jaringan NOHA mengintegrasikan pelatihan bersama dan program penelitian ke dalam kurikulum mereka masing-masing, melakukan kerjasama dan integrasi sambil tetap mempertahankan spesialisasi dan tradisi mereka.

Di awal program NOHA, semua siswa mengikuti program intensif selama 6 hari di University of Warsaw, Polandia. Program ini memperkenalkan siswa pada prinsip dan konsep yang mendasari aksi kemanusiaan, aktor utama di bidang bantuan kemanusiaan, kebijakan dan strategi mereka, serta tantangan yang dihadapi aktor kemanusiaan.

Saya mengikuti kuliah semester pertama di Ruhr Universität Bochum, Jerman. Kegiatan belajar mengajar di laksanakan di Institute for International Law of Peace and Armed Conflict, IFHV. Dalam semester pertama saya mendapatkan materi : World Politics, International Law, Public Health in Humanitarian Action, Management, Anthropology. Selain itu juga mendapatkan beberapa training antara lain : Project Management,Eepidemiology, Financial Budgeting, Ethics in Humanitarian Aid.

Di semester kedua saya mengikuti mobilitas studi di University of Groningen, Belanda dengan tema spesialisasi : Humanitarian Analysis and Intervention Design. Materi yang didapatkan : Advanced Management in Humanitarian Action , Advanced Research Methods, Context and Stakeholder Analysis, Supply Chain Management, Evidence Based Programming, NOHA Comprehensive Reflective Simulation. Training yang didapatkan antara lain : Humanitarian Engineering, Humanitarian Negotiation, Child Protection, Basic GIS.

Pada semester tiga, siswa dapat memilih antara dua opsi, yaitu Regional Training atau Work Placement. Pada program Regional Training, siswa akan mengikuti kuliah dan pelatihan di universitas mitra NOHA. Sedangkan untuk program Work Placement siswa mengikuti pelatihan tentang pengembangan karir di organisasi mitra atau organisasi lain yang berkaitan dengan aksi kemanusiaan. Dalam program ini siswa akan dibimbing dan dipantau oleh pembimbing perorangan dari universitas asal.

 

Alasan Memilih Work Placement

Sebelum mengikuti program NOHA, saya mempunyai pengalaman bekerja di bidang kesehatan sebagai dokter umum dan staf manajemen rumah sakit di Indonesia. Selain itu saya juga menjadi tenaga pengajar di salah satu perguruan tinggi kesehatan. Namun dalam bidang aksi kemanusiaan secara global, saya belum memiliki pengalaman yang cukup.

Menurut saya, mengikuti program work placement atau internship akan membuka peluang bagi seseorang sebelum memasuki dunia karir secara profesional. Kegiatan internship memberi kesempatan bagi seseorang untuk meningkatkan kemampuannya, baik dalam bentuk ilmu, pengetahuan, wawasan, dan perluasan jaringan. Semua itu akan bermanfaat sebagai modal untuk masa depan dan membuka peluang untuk masa depan karier seseorang.

 

Persiapan sebelum Work Placement

Sebelum menjalani program work placement atau internship, tentunya saya harus mempersiapkan diri serta melihat potensi diri saya untuk mencari tempat internship yang sesuai. Karena latar belakang pendidikan dan pekerjaan saya di bidang kesehatan, maka saya juga mencari tempat internship yang berhubungan dengan aksi kemanusiaan di bidang kesehatan. Untuk itu saya mencoba menulis surat lamaran dan menyusun CV untuk kemudian mengirimkan ke lembaga dan organisasi kemanusiaan yang membuka lowongan posisi di bidang kesehatan. Dalam penulisan surat lamaran dan CV ini saya mengikuti contoh yang diberikan oleh kampus dan pembimbing saya dari universitas asal. Namun saya juga memperluas kesempatan dengan mengirimkan surat lamaran kepada organisasi kemanusiaan untuk posisi lain diluar bidang kesehatan yang berhubungan dengan disiplin ilmu dalam program NOHA. Dalam hal pencarian tempat internship, organisasi NOHA dan pihak universitas juga memberikan informasi tentang kemungkinan tempat internship yang mungkin sesuai dengan minat dan potensi para siswa.

Setelah mempertimbangkan banyak faktor saya memutuskan untuk mencari tempat internship di kota Groningen, sama dengan tempat mobilitas studi saya. Saya mencoba menghubungi diaspora Indonesia di Groningen dan mendapatkan informasi tentang sebuah NGO kemanusiaan yang sangat bagus yaitu Stichting Alzheimer Indonesia Nederland (Alzi Ned). Setelah mengajukan surat lamaran internship dan beberapa kali komunikasi, akhirnya saya diberi kesempatan untuk melakukan kegiatan internship di Stichting Alzi Ned.

Profil Organisasi Tempat Internship

Stichting (Yayasan) Alzheimer Indonesia Nederland (Alzi Ned) adalah organisasi non profit (NGO) yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup orang dengan Alzheimer dan demensia lainnya, keluarga, dan caregivernya dengan latar belakang Indonesia di Belanda. Stichting Alzined juga mendukung dan bekerja sama dengan Alzheimer Indonesia dengan ilmu pengetahuan dan dana dari Belanda. Stichting (Yayasan) Alzheimer Indonesia Nederland juga didukung oleh pemerintah pusat dan daerah, kementerian kesehatan, kementerian sosial, media, swasta, komunitas dan relawan yang multi generasi dan profesi di Indonesia dan Belanda.

Beberapa aktivitas yang dilakukan Stichting Alzined yaitu:

  • Meningkatkan kesadaran tentang penyakit Alzheimer dan demensia lainnya.
  • Advokasi kepada semua pihak terkait di Indonesia dan Belanda.
  • Mempromosikan hidup sehat (terlebih di usia 40 ke atas)
  • Mendukung peningkatan pembangunan kapasitas tenaga medis, perawat, dokter dan caregiver di Indonesia dan Belanda.
  • Mendukung penyedia layanan kesehatan di Belanda dalam bagaimana mengatasi lansia dengan latar belakang Indonesia.
  • Memperluas jaringan rekanan (swasta, pemerintah, start-up dan lain-lain) untuk berkolaborasi.

 

Kegiatan internship dalam organisasi

Dalam masa awal bergabung dengan organisasi, saya mendapatkan materi pembekalan tentang visi, misi, kegiatan, dan tugas saya selama program internship bersama Stichting Alzi Ned. Selain itu saya juga mendapat kelengkapan materi berupa buku-buku, poster, dan video tentang penyakit Alzheimer dan demensia lainnya serta profil organisasi Alzi Ned Dalam masa internship ini, saya mendapat tugas sebagai Project Coordinator.

Secara garis besar tugas dan kegiatan yang saya lakukan adalah :

1. Berbagi informasi dan pengetahuan tentang penyakit Alzheimer dan demensia dengan diaspora Indonesia di Belanda.

Kegiatan ini dilakukan dengan bimbingan pengurus Stichting Alz Ned dan kerjasama dengan para relawan. Kegiatan dilaksanakan dengan melakukan presentasi di daerah lain di luar Groningen, terutama daerah yang belum teraktivasi. Jadwal pelaksanaan kegiatan ini menyesuaikan dengan jadwal pertemuan grup-grup diaspora Indonesia yang ada di Belanda. Materi presentasi berisi tentang pengenalan penyakit Alzheimer dan demensia lainnya, profil organisasi, serta tanya jawab tentang seputar Alzheimer dan demensia. Dalam presentasi akan diputarkan video dan dibagikan brosur tentang tanda dan gejala penyakit demensia. Selain itu juga dilakukan latihan gerakan senam otak bersama peserta sebagai salah satu cara mencegah terjadinya demensia.

2. Penggalangan dana untuk kegiatan

Kegiatan dilakukan bersama pengurus dan relawan Stichting Alzi Ned. Kegiatan yang dilakukan dengan membuka stand pada beberapa kegiatan yang diadakan, baik di Groningen maupun di kota lain. Kegiatan yang diikuti, misalnya Korremarkt dan Sinterkerst Fair. Dalam kegiatan ini dilakukan penjualan batik, buku, dan souvenir serta berbagi informasi tentang demensia Alzheimer dan tanda demensia. Hasil penggalangan dana disumbangkan untuk kegiatan organisasi, terutama kegiatan mendukung orang dengan demensia di Indonesia. Penggalangan dana juga dilakukan untuk kejadian insidental, misalnya bencana banjir di Jakarta pada bulan Januari 2020.

72598777_435796563721323_1292805458406408192_n

3. Mejalin Kerjasama dengan organisasi lain dan pemangku kepentingan

Kegiatan dilakukan dengan mengikuti pengurus Stichting Alzined dalam petemuan dengan perwakilan Kedutaan Besar RI dan organisasi lainnya, baik dari organisasi dari Belanda, misalnya maupun organisasi dari Indonesia, misalnya Perhimpunan Pelajar Indonesia di Belanda dan Indonesian Migrant Worker Union. Pertemuan ini bertujuan untuk mempererat kerjasama yang sudah terjalin dan membahas kegiatan bersama di masa mendatang.

4. Manajemen database

Kegiatan ini dilakukan dengan bimbingan pengurus Stichting Alzined dalam mengupdate data relawan organisasi. Selain itu juga menindak lanjuti data pengunjung kegiatan Alzined yang berpotensi sebagai relawan.

5. Dokumentasi dan publikasi di media sosial

Kegiatan dilakukan dengan mendokumentasikan kegiatan-kegiatan Stichting Alzined dalam bentuk foto dan video serta mempublikasikannya dalam media sosial misal WA group. Pengurus organisasi juga mempublikasikan melalui facebook dan website Alzined.org. Selain itu dilakukan pembuatan akun youtube : Alzi Ned Channel untuk mempublikasikan video kegiatan yang sudah dilakukan Stichting Alzined. Beberapa video yang sudah diunggah antara lain : “Kunjungan AlziNed ke Indonesische Group, Den Haag”, “Kompilasi Kegiatan World Alzheimer Month 2019 oleh Alzheimer Indonesia Nederland”, “Pertemuan Korwil Alzheimer Indonesia di Bali 22-24 Nov 2019”, dan video-video lainnya.

6. Kegiatan ilmiah

Kegiatan ini dilakukan bersama pengurus dan relawan Stichting Alzi Ned untuk menghadiri seminar dan workshop tentang demensia dan Alzheimer. Beberapa kegiatan seminar yang saya hadiri antara lain : “Dementia Friends Society” di Het Dok Kajuitstraat, Groningen dan Spesialism in Elderly Meidicine Education Meeting di Leiden University Medical Center.

7. Penulisan artikel di blog website

Penulisan artikel di blog website dilakukan dengan bimbingan pengurus Stichting Alzined. Kegiatan ini juga sangat berguna untuk melatih keterampilan dalam menulis. Artikel yang sudah ditulis bertema perawatan penderita demensia di Belanda dan tema tentang belajar demensia secara online.

8. Pertemuan evaluasi kegiatan organisasi

Setiap akhir bulan diadakan pertemuan untuk mengevaluasi kegiatan yang sudah dilakukan dan rencana kegiatan untuk bulan berikutnya. Di akhir Desember 2019 juga dilakukan pertemuan evaluasi kegiatan yang sudah dilaksanakan selama tahun 2019 dan di lakukan pembahasan untuk agenda kegiatan tahun 2020. Dalam pertemuan tersebut juga dilakukan evaluasi tentang kegiatan internship yang saya jalani serta kendala yang saya hadapi. Dalam setiap pertemuan, saya juga diberi kesempatan untuk menyampaikan ide untuk kegiatan organisasi.

Manfaat Pembelajaran Selama Internship

Setelah mengikuti program internship bersama Stichting Alzined, maka beberapa pembelajaran yang saya dapatkan adalah :

1. Pengalaman dunia kerja dalam NGO

Setelah mengikuti internship di Stichting Alzined ini, saya mendapat kesempatan untuk merasakan dunia kerja dalam NGO yang sesungguhnya. Pengalaman ini memberikan gambaran tentang bagaimana suka duka bekerja dalam NGO. Selain itu saya juga mempunyai wawasan tentang karir di NGO terutama di bidang kemanusiaan.

2. Peningkatan kemampuan dan keterampilan

Ketika bekerja dalam NGO, maka kita akan melakukan banyak hal yang membutuhkan multiple skill. Pengurus organisasi dan relawan Stichting Alzi Ned mendedikasikan seluruh keahlian dan keterampilan yang dimiliki, mulai bidang manajemen, keahlian khusus, sampai hal-hal sederhana. Melalui kegiatan internship ini saya juga belajar tentang hal-hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya, misalnya membuat video publikasi, menulis artikel di blog, menset-up dan menjaga stand, presentasi di forum diaspora, dan beberapa kegiatan lainnya.

3. Menambah jaringan

Internship di Stichting Alzi Ned memberi saya pengalaman untuk bertemu dengan organisasi-organisasi rekanan yang memperluas jaringan profesional. Selain itu dalam setiap kegiatan, saya bertemu banyak orang dari berbagai latar belakang sehingga saya bisa belajar banyak hal dari mereka bukan hanya tentang keterampilan organisasi tetapi juga tentang hal-hal lain dalam kehidupan.

80966107_492144598086519_3579623695234105344_n

4. Belajar mengelola waktu

Bekerja di NGO membutuhkan waktu yang fleksibel. Jika ada kegiatan, kadang kita harus mencurahkan waktu kita secara penuh, namun kadang kita bisa lebih santai dengan melakukan monitoring di rumah. Kita juga harus siap dengan perubahan yang mendadak dan me-reschedule jadwal kita secara cepat. Saya juga harus bisa membagi waktu dengan tugas-tugas perkuliahan dan aktivitas pribadi bersama keluarga.

5. Peluang karir

Kegiatan internship dapat menjadi kegiatan awal sebelum ke dunia kerja yang sesungguhnya. Apa yang didapat selama internship akan bisa menjadi bekal bagi seseorang di karirnya kelak. Setelah menjalani internship di Stichting Alzined, saya memiliki pengetahuan dan keterampilan baik di bidang organisasi maupun spesifikasi tentang demensia dan perawatan lansia yang dapat saya jadikan bekal untuk mengembangkan karir di bidang tersebut.

6. Kegiatan pengabdian

Dengan menjalani kegiatan internship di Stichting Alzined, secara tidak langsung saya turut serta membantu warga Indonesia maupun warga Belanda dengan latar belakang Indonesia. Hal ini memberikan pengalaman batin tersendiri bagi saya.

7. Koneksi dan Kesesuaian dengan Program Studi

Kegiatan internship di Stichting Alzined sangat sesuai dengan program studi NOHA. Dengan menjalani kegiatan internship di Stichting Alzined, saya dapat mengimplementasikan materi-materi kuliah yang sudah saya dapatkan di program NOHA. Dalam pembelajaran menjalankan suatu project event, saya dapat mengimplementasikan materi kuliah tentang Advanced Management in Humanitarian dan Context and Stakeholder Analysis. Materi Public Health in Humanitarian Action dapat saya terapkan dalam mempresentasikan aspek klinis tentang demensia dan perawatan lansia. Materi Antrhopology dapat saya terapkan ketika bersosialisai dengan komunitas diaspora Indonesia di Belanda. Materi-materi perkuliahan lainnya juga dapat saya terapkan dalam kegiatan internship ini.

72684888_454770738490572_8198292278217801728_n

Work Placement dalam program master NOHA dapat menjadi sarana pembelajaran bagi siswa sebelum memasuki dunia kerja di bidang aksi kemanusiaan secara profesional. Pemilihan tempat internship yang sesuai dan persiapan yang baik sebelum internship akan memberikan manfaat yang sangat besar untuk kelancaran kegiatan internship. Materi-materi perkuliahan yang didapatkan di universitas asal dan mobilitas studi dapat saya terapkan dalam melakukan kegiatan internship di Stichting Alzheimer Indonesia Nederland. Pengalaman pembelajaran yang saya dapat selama kegiatan internship sangat berguna dalam menunjang program perkuliahan dan peluang karir saya di masa mendatang

Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh pengurus Stichting Alzheimer Indonesia Nederland atas kesempatan dan bantuan yang diberikan selaman kegiatan internship. Terima kasih juga saya sampaikan kepada seluruh relawan atas kebersamaan dan bantuan yang diberikan. Saya juga memohon maaf yang sebesar-besarnya atas semua kesalahan yang sudah saya lakukan selama kegiatan internship.

Groningen, 15 Februari 2020

Budi Darmawan

Why stories are not enough – the importance of the science

By: Eva van der Ploeg

Introduction Video:

Eddie had become an annoyance not to say a hazard to himself and his environment. Living with Alzheimer’s in a nursing home, staff would recognize his ‘bad days’ when he was standing up more than his usual bent posture. He would create chaos by starting to move around all the furniture in the shared living space, putting chairs on tables using the odd swearing word. In the process, he would agitate his co-habitants (imagine a snowball effect)and consequently the staff. Family members would arrive in a potentially chaotic and unpleasant environment. A depressing story for all those involved.

At the time, we were starting our research project about Original Montessori for Dementia (copyright dr Cameron Camp). We were looking for people who lived in a nursing home, had a diagnosis of a dementia and displayed agitated behaviors. Eddie fitted the profile perfectly. I went to interview staff to find out more, but I came back disheartened questioning if I could do anything for Eddie and somewhat frightened that he would attack me. I spoke to his daughter, and from a misunderstood and daunting disease, Eddie became a person again. A man with an interesting life story, some spunk and a sense of humor.

In the meantime, a colleague who knew Eddie and his family well, approached Eddie during one of his ‘moods’. We had just been schooled in Montessori for Dementia and she immediately applied the teachings by asking Eddie ‘Why are you moving all the furniture?’. ‘Well’, said Eddie, ‘I am preparing my workplace for the day’. Eddie used to be a car- and motor mechanic. Although his behavior looked odd, erratic from the outside, Eddie felt he was doing something useful, something he had done for most his life. And with his straightforward explanation, he communicated that he was looking for a role, activity, meaning in his daily life. He basically told us he was bored.

Taking all this information together, we designed an activity program for Eddie. And it was my pleasure to include Eddie as the first participant in my project and do activities with him. I spend time with Eddie doing so-called Montessori activities, which was a pleasure. Eddie sat down. He made contact with me. He smiled. Most importantly, he did not get up to redesign the living room. He stayed, was calm and we both had a good time. A staff member stopped in her tracks and stared at us. Later she told me she could not believe what she had seen. Before, I started my work, she had told me ‘there was no use’ to work with this man.

IMG_0348

Great success story right? Are your hands itching to try Montessori for Dementia? Did a specific person come to mind? Hold your horses! Here are a couple of questions, and imagine me sitting on the chair of your supervisor, general management, financial manager, policy maker:

  • Was Eddie not just happy to have some company?
  • Who says it works for other people?
  • Who is going to do this intervention? We don’t have time!
  • What does this cost? Why should I invest in this?

Now this is were science can support you. As I mentioned my ‘intervention’ was part of a research project. It was a great opportunity, as we were both helping people who needed it then and there, as well as trying to create scientific evidence to support Montessori for Dementia. We designed a randomized cross-over trial. A what? A trial is a specific, quite precise type of study where your try to control certain factors to help you to be able to give meaning to your results. For example, you choose clear criteria which people can and cannot participate in the trial. As I mentioned before our ‘participants’ had to have a diagnosis of dementia, live in a nursing home and display at least one ‘agitated behavior’.

Cross-over refers to the study conditions. All participants were offered the Montessori visits, but they were also offered what we called a series of normal visits. The frequency and duration of these two types of visits were exactly the same. During Montessori visits, we did Montessori activities especially tailored to the skills and needs of this individual. During normal (or control) visits, we just read a newspaper not tailoring to any skills or needs, so for example reading at normal speed and not focusing on topics that may capture their attention. Now why would we do this? Basically, to be able to answer question 1 (Was Eddie not just happy to have some company?). Control visits represented the added value of the study of having more company (than before). We were studying the added value of Montessori for dementia, not of increased contact. After 4 Montessori visits, I visited Eddie to read the newspaper. And let me tell you, it was not half as pleasant. During my first visit, he was happy to see me, smiled, held my hand and sat down for a while. After that it went downhill, Eddie got bored with this newspaper reading and would get up and start looking for something meaningful to do, which could be ‘preparing his workplace’. We were back to square one.

So in Eddie’s case Montessori visits performed much better than control visits, but I am still only presenting positive results with one individual. Which brings us to question 2 – does it work for other people? This is another characteristic of a trial: you study more than one person. In our case, we studied 40 people. And we tried to have a representative number of men and women in our study group. And every participant was ‘randomised’: they either started with Montessori visits and finished with control visits. Or they started with control visits to then switch to Montessori visits. We do this to make sure that the Montessori visits do not’ infect’ the control visits. The same facilitator would work with a participant for all study visits, so we needed to make sure that the Montessori principles and interests were not carried over into the control visits.

So in a nutshell, we compared people with themselves in how they responded to the two different kind of visits. And within in the group, we tried to make sure that the order of interventions did not impact on the results. It is getting technical now and I will stop here. I just wanted to give you some insight into the process of doing a research project.

IMG_0354

The results? Well, it is a nuanced story. Let me start with the good news and then continue with more good news. Firstly, Montessori activities reduced the time that participants were engaged in those agitated behaviors. By half! But: the control activities had a similar effect. Just keeping people company also led to a large reduction in agitated behaviors. Although it is not supporting the Montessori activities, this is good news too: a simple intervention can help to create a more calm environment. Imagine, volunteers coming to read the newspaper to people at that time of day that they are most agitated and disrupting others! We found further support for Montessori activities: they elicited much more active engagement, interest and positive emotions than the control activities. Meaning: that even though during control activities participants were not agitated, they were not terribly engaged or happy with the activity. So when looking for actively engaged, interested and joyful people the Montessori activities outperform the simple reading of a newspaper. A final interesting finding was, that when people had lost their English language fluency, they benefitted more from the Montessori activities than those who had maintained this ability. So Montessori activities can be helpful to target people who have referred back to their first language, like Indonesian immigrants in the Netherlands might do.

I have not answered questions 3 and 4, simply because we did not study this yet. Our impression was that this requires an investment and when everybody is doing this (staff, volunteers and family members), it will save time and money. Dr Camp is studying this atm, for example if the activities reduce the use of anti-psychotic medication (costly!).

Now, I will repeat my question: will you do this Montessori intervention? I’ll leave that to you. The evidence is mixed, but it is honest. It reveals the plot under the different story lines. You can choose the follow the plot or you can be happy and proud with the success stories. Every happy, peaceful moment for a person living with dementia counts. I would and I do. And I use the evidence (all of it, not only the convenient part) to share the whole story, so everyone can make their own decision about what to do.

 

Dr. Eva van der Ploeg has a PhD in Public Health from the Erasmus Medical Centre in Rotterdam. She has worked and lived in the U.S.A., the Netherlands and Australia. She is now based in Indonesia. She works internationally as a researcher, consultant and trainer of ‘Original Montessori for Dementia’ hoping to improve the life of people with dementia and those caring for them.

How To Cope on Natural Disasters with elderly and people with dementia – Tips Menghadapi Bencana Alam Untuk Orang Dengan Demensia dan para Caregivers

(In English & Bahasa Indonesia)

Some tips for people living with dementia and their caregivers.

Banjir

For the last couple of weeks, we have heard news about severe floods and landslides in Jakarta and other areas in Indonesia which has caused death of 66 people and displaced thousands of people from their home. This emergency situation not only have significant impacts on everyone’s safety, but it can be especially confusing for people living with dementia and their caregivers.

Here are some tips of how we can minimize the impact of natural disasters:

Be prepared

  • Check weather conditions regularly and be well informed, find information through social media of several trustable resources, such as Indonesia’s National Disaster Management Agency (BNPB) or The Indonesian Red Cross.
  • Prepare an emergency bag, including your essential needs (e.g., medications, important documents, easy-to-change outfits, shoes, recent picture of people living with dementia, ID bracelet / clothing tags, bottled water, dry food like biscuits, oxygen cans and a favorite item of the person living with dementia)
  • Keeping contact numbers of the doctor/ hospital for emergency case, local government authorities (Ketua RT/RW) and Yayasan Alzheimer’s Indonesia might be useful if you need information and need to be evacuated.
  • If you need to evacuate, don’t delay! The sooner the better.
  • Stay calm and focus on your safety and your loved ones.
  • Don’t forget to update your location regularly to your family.

During Evacuation

  • Be aware that changes in routine might cause confusion and anxiety in people with dementia, especially those are in the early stage of Alzheimer’s, and that will increase the risk of wandering and agitation.
  • If needed, inform other people in the shelter, your neighbor, other family members about the diagnosis, so they can help to assist better.
  • Do not leave the people living with dementia alone. They can easily get lost. Put the bracelet ID or tags with name and contact number.
  • Try to remain calm.

 

Tips Menghadapi Bencana Alam Untuk Orang Dengan Demensia dan para Caregivers

 

Sejak beberapa minggu terakhir, kita telah mendengar berita tentang banjir parah dan tanah longsor di Jakarta dan daerah lain di Indonesia yang telah menyebabkan kematian 66 orang dan ribuan orang mengungsi dari rumah mereka. Bahkan korban terbanyak dikabarkan kebanyakan adalah anak-anak dan lansia. Situasi darurat ini tidak hanya berdampak signifikan pada keselamatan orang banyak, tetapi dapat menjadi situasi yang membingungkan bagi orang dengan demensia (ODD) maupun caregivers (baik keluarga maupun pengasuh).

Berikut adalah beberapa tips tentang bagaimana kita dapat meminimalkan dampak bencana alam:

Bersiaplah!

  • Periksa kondisi cuaca secara teratur dan dapatkan informasi lengkap melalui media sosial dan sumber terpercaya seperti akun Badan Nasional Penanggulangan Bencana Indonesia (BNPB) atau Palang Merah Indonesia.
  • Siapkan tas darurat yang berisi kebutuhan penting Anda (misalnya: obat-obatan, dokumen penting, pakaian yang mudah diganti, sepatu, foto terbaru ODD, gelang identitas / label pakaian, botol air minum, makanan kering seperti biskuit, oksigen kaleng dan barang favorit ODD.
  • Simpan nomor kontak dokter / rumah sakit untuk kasus darurat, Ketua RT / RW dan hotline Yayasan Alzheimer Indonesia yang mungkin berguna jika Anda memerlukan informasi dan perlu dievakuasi.
  • Jika Anda perlu mengungsi, jangan menunda! Lebih cepat lebih baik.
  • Tetap tenang dan fokus pada keselamatan Anda dan orang yang Anda cintai.
  • Jangan lupa untuk memberi kabar lokasi terbaru kepada keluarga.

Selama Evakuasi

  • Sadarilah bahwa perubahan pada rutinitas dapat menyebabkan kebingungan dan kecemasan pada ODD, terutama yang berada pada tahap awal Alzheimer’s Disease sehingga akan meningkatkan risiko wandering pada ODD.
  • Jika perlu, beri tahu orang lain di tempat penampungan, tetangga Anda, atau anggota keluarga lainnya tentang diagnosis ODD sehingga mereka dapat membantu untuk menjaga ODD dengan lebih baik.
  • Jangan biarkan ODD sendirian. Dalam suasana baru mereka bisa dengan tersesat dengan mudah. Pakai gelang atau kalung yang berisi nama dan nomor kontak keluarga yang bisa dihubungi.
  • Tetap tenang, jangan panik.

 

Tania Marini Setiadi M.D – Champions Science Support 

Cerita dari Ruang Pusat Komunitas Buurthuiskamer di Zuidhorn, Groningen

Nama saya Imelda Tiekstra-Tatuhey dan saya tinggal di Zuidhorn (propinsi Groningen, Belanda Utara).

Tahun 1951 opa saya (korporaal dari tentara K.N.I.L- Koninklijk Nederlands Indisch Leger) datang ke Belanda dengan kapal laut bersama 12.500 militer-militer dan keluarga mereka dengan berbagai macam kapal. Ayah saya waktu itu berumur 14 tahun.

Saya lahir tahun 1975 di Assen, mempunyai adik perempuan (lahir di tahun 1977) dan adik laki (tahun 1978). Ayah saya meninggal tahun 1989 waktu saya berumur 14 tahun.

Tahun 2002 saya selesai sekolah ‘Pedagogisch Sosial dan tahun 2003 bulan Maret, saya bekerja sebagai pemimpin kelompok untuk anak-anak muda pencari suakaasylum seekers’, dari berbagai negara seperti Afrika dan Afhanistan). Setelah bekerja setahun, separuh dari pekerja dikurangi.

3 November 2004 saya mulai kerja di panti lansia orang-orang tua yg bernama Hunzerheem. Di dalam panti ada 1 ruangan khusus untuk orang-orang tua Indo dan Maluku. Sukarelawan-sularelawan orang-orang Indo dan Maluku di beri nama: SENANG BERSAMA. Saya bekerja sebagai pendamping aktivitas (activiteiten begeleider).

WhatsApp Image 2020-01-07 at 19.17.08

4b859fc9-0fd0-4a58-9b77-60b6dc3cdeaa

Untuk penghematan (bezuiniging), pegawai-pagawai dikirim ke panti-panti lain dan diberi kesempatan untuk belajar menjadi perawat.

Tahun 2014 saya di kirim ke Zuidlaren, untuk bekerja di bagian perawatan mental (geestelijke gezondheidszorg) sebagai pendamping aktivitas.

Setelah 3 tahun saya berhenti kerja dan sejak tahun 2018 saya kerja sebagai huishoudelijk medewerkster (pekerja rumah tangga). Dan setiap hari Jumat saya kerja sukarela di buurthuiskamer Pand10A di Zuidhorn, dimana saya mengatur aktivitas-aktivitas untuk soos Indonesia yg bernama ‘Mari masuk’. Disana diadakan kegiatan berlatar belakang Indonesia dari jam 10 pagi sampai jam 12 siang.

Siapa saja bisa datang mampir, minum kopi/teh dan makan kue2 bersama, ngobrol-ngobrol. Sekali-kali diadakan kegiatan-kegoatan seperti: workshop obat-obat tradisional, cerita tentang bermacam-macam jenis kain ikat. Saya suka putar lagu-lagu Indonesia, tamu-tamu bisa bermain congklak/dakon. Sekali-kali tamu membawa album foto tempo dulu dan bercerita tentang album itu dan ada yang membawa alat/ bahan dari Indonesia waktu jaman dulu.

E. Impressie mari masukL5. Deelnemers workshop lemet maken

Pada bulan Juni 2019 kami mengadakan ‘Pasar Ketjil’. Cuacanya sangat bagus.           Banyak stand yang berjualan seperti sate, jajanan Indonesia, barang-barang dari Indonesia, cendol, rujak, pertunjukan tarian dari Bali dan Sumatera. Dan juga Alzheimer Indonesia-Belanda hadir untuk memberikan informasi tentang kegiatan mereka.

WhatsApp Image 2020-01-07 at 19.02.18

WhatsApp Image 2020-01-07 at 19.22.12WhatsApp Image 2020-01-07 at 19.02.18(1)65514700_386181982016115_6905578122226171904_n64749349_386182078682772_2589231522703736832_n

Untuk anak-anak juga terdapat kegiatan: membuat topeng workshop angklung. Dan dua band yang saling berganti bermain. Bingo juga dilakukan secara spontan. Jurnalis dari koran datang pada hari itu meliput membuat acara Pasar Ketjil menjadi sukses dan banyak yang bertanya kapan akan diadakan kembali.

Dua bulan sekali saya masak makanan Indonesia. Yang berminat bisa mendaftarkan namanya di buku yang terletak di atas meja buurthuiskamer, atau hubungi saya (telpon/ email). Maksimal 12 orang dengan biaya €7.50.

M4M2- De ongenode gast Tim van StreekkrantL. Workshop lemet makenH. Indonesische maaltijd-gado2J1. Gezelligheid

Banyak sekali kegiatan yang kami laksanakan secara regular misalnya tanggal 18 Maret 2020 kami akan adakan workshop ‘Putar Ketupat’ di buat dari pita. Siapa yang berminat bisa daftar hanya dengan €6 sudah termasuk kopi/teh dan bahan. Untuk melihat berbagai macam kegiatan kami, bisa cek ke website: www.buurthuiskamerzuidhorn.nl

Kalau ada waktu, datang mampir ‘Mari Masuk’.

Sampai Jumpa!

Salam dari Imel.

 

Cerita Pak Indra dan Bu Tosri, sebagai angkatan pertama perawat Indonesia ke Belanda di tahun 90 an.

WhatsApp Image 2019-12-23 at 15.16.28

Pada hari Sabtu 21 Desember 2019. Alzi Ned berkesempatan bersilaturahmi ke Pak Indra Tosri dan Bu Evi Helvia Hidayat. Beliau berdua sudah menjadi perawat lansia selama 27 tahun (14 tahun di Delft dan 13 tahun di Nijmegen). Beliau berdua berbagi pengalaman dan menjelaskan tentang sistem perawatan untuk pasien demensia Alzheimer di Belanda. Kami juga mensosialisasikan tentang kegiatan Stichting Alzi Ned. Tak lupa kami membagikan brosur tentang 10 gejala demensia Alzheimer

Sedikit cerita yang bisa kami petik dari obrolan kami adalah:
Di tahun 90an perawatan lansia dengan penyakit penyulit semua dilakukan di RS, salah satu pusatnya ada di Delft. Masing- masing bangsal ruangan berisi 6 orang. Asrama perawat ada di samping RS.

-Sejak tahun 2000an diganti dengan gedung-gedung perawatan yang lebih kecil merawat sekitar 8-10 orang dan perawatan homecare mulai digalakkan.

-Gedung perawatan merupakan milik swasta. Biaya perawatan ditanggung oleh asuransi, pemerintah dan mandiri dengan presentase yg berbeda-beda tergantung perhitungan penghasilan keluarga. Namun perawatan yg diberikan sama.

-Untuk lansia diberikan grade untuk penyakit penyulitnya (grade 10 untuk penyakit stadium akhir).

-Beberapa pusat lansia di Belanda menerapkan sistem terdiri beberapa gedung dengan bentuk melingkar dan diantaranya ada gedung untuk pasien dengan masing-masing penyulit.

-Perawatan diusahakan semanusiawi mungkin. Pasien-pasien masih banyak menyangkal kalo dirinya mengalami demensia.

-Berbagai fasilitas disediakan untuk pasien disesuaikan dengan latar belakangnya, semisal aktivitas sepeda-fix dengan layar lokasi pemandangan, area berkebun, kesempatan menjadi komite (untuk yang berlatar belakang pejabat/pengurus organisasi) dan sebagainya.

-Untuk pasien-pasien yang tetap menyangkal hidup dengan demensia dan tidak mau didampingi, maka ada perawat yang ditugasi mengawasi dari jauh.

Pak Indra dan Bu Evi merupakan angkatan pertama pengiriman tenaga perawat lansia ke Belanda. Program tersebut dihapus karena larangan untuk mengambil perawat dari luar Uni Eropa. Namun tahun ini sudah dimulai lagi pilot project untuk pengiriman kembali tenaga perawat dari Indonesia.

 

Salam Jangan Maklum Dengan Pikun!

 

dr. Budi Darmawan

Ristiono, S.Psi, CH., CHt., NNLP

Alzheimer Indonesia Nederland

Alzheimer Indonesia – Lombok Mengenalkan Demensia Alzheimer Pada Masyarakat Desa Taman Ayu

Minggu, 22 Desember 2019.

Bertempat di Kecamatan Gerung, Desa Taman Ayu diadakan kegiatan yang bertema “Festival Budaya Seribu Rengginang, Bersama Karang Taruna Semaiq Waye”. Kegiatan merupakan acara yang digagas oleh Kepala Desa Taman Ayu bersama Karang Taruna Semaiq Waye.

WhatsApp Image 2019-12-22 at 13.14.04

Pada kegiatan “Festival Budaya Seribu Rengginang, Bersama Karang Taruna Semaiq Waye” di desa taman Ayu, Alzi Lombok dengan 11 relawan membuka stand sekaligus melakukan sosialisasi kepada masyarakat Desa Taman Ayu. Sosialisasi ini dilakukan utk mengenalkan demensia alzheimer kepada masyarakat Desa Taman Ayu yg hadir dalam kegiatan festival budaya seribu rengginang. Selain itu Alzi Lombok juga memberikan informasi seputar gejala umum demensia alzheimer dan bagaimana cara pengurangan resiko demensia alzheimer.

Kegiatan sosialisasi ini dilakukan untuk menambah pengetahuan masyarakat Desa Taman Ayu tentang demensia alzheimer. Di Desa Taman Ayu sendiri demensia alzheimer memang sangat jarang didengar oleh masyarakat, oleh sebab itu demensia alzheimer sangat harus untuk disosialisasikan. Tidak sedikit masyarakat desa taman ayu yg berkunjung menuju stand alzi lombok. Terlihat dalam kegiatan ini antusias dan keingin tahuan masyakarat Desa Taman Ayu sangat besar untuk demensia alzheimer.

WhatsApp Image 2019-12-22 at 13.14.07

Ibu Maisah, salah satu masyarakat Desa Taman Ayu mengungkapkan bahwa “kegiatan sosialisasi demensia alzheimer ini sangat bermanfaat utk masyarakat Desa Taman Ayu secara umum, dan utk dirinya secara khusus. Besar harapan kegiatan ini dapat dilakukan lagi secara rutin dan berkelanjutan di Desa Taman Ayu dan di desa-desa lainnya lagi”.

Harapan yg sama juga dimiliki oleh teman-teman Alzi Lombok, semoga kita semua selalu bermanfaat untuk masyarakat

Salam Jangan Maklum Dengan Pikun!

Tim Alzi Lombok

Behavioral Changes in People Living With Dementia Some suggestions for the caregivers

Changes in personality and behavior are common in people living with dementia, even at the early stage of the disease. When your loved one started to be more anxious, aggressive, sad without any reason, or just sit on the couch for hours without doing anything, sometimes it can be overwhelming for you as their caregivers.

ADIM_2261

It is always useful to rule out any physical problem that might cause changes in behavior, such as constipation, pain, fever, infection, etc. If you are not sure, you can check it out with their doctor. Caregivers meeting can also be a great place for caregivers to exchange experience with other caregivers and discuss how they deal with their loved ones.

Here are some tips how to handle this situation:

  1. Try to keep a daily routine. People with dementia often hardly cope with unplanned activities, they need to know what to expect.
  2. Try to reason the situation with your loved one often only create more frustration. So, don’t.
  3. You can offer new activity to your loved one, whether they want to play music, sing, listen to old records, making some crafts, or gardening. Yes, distractions sometimes work!
  4. Caregivers can feel tired too. If you feel overwhelmed, it’s okay, just take fresh air for a few minutes then come back and start over.
  5. Try to laugh about it! Laugh is always the best medicine, for your loved one and also for you!
  6. Do not complicate things. Keep everything simple.

ADIM_8555

If the behavior persists or getting worse after you have tried all of this (especially when their behavior might harm themselves or other people), then it’s time to consult with their doctor again whether your loved one need special medication or need to consider assisted living options.

Tania Setiadi

Stichting Alzheimer Indonesia Nederland

29 November 2019

 

Caregiving and volunteering, inspired by my dementia parents.


💜Salam Ungu💜

Hope Love Care Seminar in Malang, October 2018

Exactly one month ago, my precious adventure as a Volunteer for the @ Stichting Alzheimer Indonesia Nederland has brought me to another level of understanding and concerning about what we call Alzheimer. As a Speaker at that time for more than 700 people , Presenting a presentation about Caregivers and presentation with the Dutch Team about The Dutch’s Point of views of Alzheimer that can be implemented in Indonesia has opened more feeling for me to help more people in giving information about this disease.

Sharing my knowledge in The Netherlands for my home country Indonesia

So , that is what I do even tho I have so little time in between my “crazy life” but I tried always in any time I have I manage to share the information. And one of wonderful feeling I got is when they came to ask me without I ask. It gave me a sense of meaningful life , that I am useful to spread the words. My house is always open for people that eager want to know more about Alzheimer and also how to manage our self in order to stay in our sanity while taking care of our family member with Alzheimer.

My lovely parents

Some of the pictures you see are the pictures where I gave information to some groups of women in Indonesia thru WA ( long live technology😊) and got helped from my sister in law, my aunty and my niece. Their enthusiasm in want to know more about this disease were really made my days even tho I am a thousands miles away from them.

Community Sharing 10 signs of dementia in Depok, Indonesia

And yet, even tho it saddened me with what happened with my parents but in the end I see a blessing more in my life how it leads my life to be more colourful and grateful and most of all I gain more lovely friends and wonderful networks and I received love of what I do with my heart.

My lovely parents whose both have dementia

I hope my story will inspire and motivate more people mostly young generation to be more concern about Alzheimer.

💜Salam Ungu💜

Fitri Gaylani Sabariah.

Her parents both have dementia in Depok, Indonesia and now she is working at Nursing Home Vivaldi in Zoetermeer. 

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑