Aku tidak mau pikun!

PPME Al Ikhlash Amsterdam
19 Juni 2022

Pengajian Hari Minggu PPME Al Ikhlash Amsterdam (PPME AIA) mengundang ALZI Ned untuk mengisi agenda edukasi kesehatan pada tanggal 19 juni 2022. Topik mengenai kesehatan otak dan mengenal demensia dibahas dalam agenda yang dihadiri oleh 25 jemaah ini. Acara dimulai setelah sholat dhuhur bersama. Manik mengawali kegiatan edukasi dengan perkenalan serta pemaparan materi. Sebelum menuju ke sesi tanya jawab, peserta diajak untuk melakukan Brain Gym bersama dengan panduan video dari ALZI. Ibu Shirley Iskandar mendapat kesempatan di sesi berikutnya untuk menceritakan pengalamannya dalam memberi support kepada ibu tercinta, orang dengan demensia. Sharing yang menyentuh hati diikuti dengan sesi diskusi.

Banyak pertanyaan dari Jemaah PPME AIA yang membuat diskusi berjalan sangat dinamis. Acara dilanjutkan dengan rencana aksi peserta untuk mempraktekkan komunitas ramah demensia di komunitas mereka. Beberapa rencana aksi yang tercetus adalah: ingin menyebarkan informasi yang baru saja mereka terima kepada Jemaah lainnya, membuat agenda ngopi bersama lansia, serta melakukan kunjungan bagi Jemaah lansia. Seperti dalam agenda di komunitas Indonesia lainnya, acara diakhiri dengan ramah tamah ditemani makanan khas Indonesia☺️.

Semoga program edukasi kesehatan ini bermanfaat dalam meningkatkan kesadaran akan demensia, kepeduliaan akan sesama dan mendukung peningkatan kualitas hidup orang dengan demensia dan keluargan


Salam Jangan Maklum Dengan Pikun!💜

( Manik Madijokromo – Kharismayekti )

Melody Memory Project – Bali

Melody Memory Project began as a programme initiated by Alzheimer Indonesia Nederland (ALZI Ned) to spread dementia awareness amongst the elderly community in Bali through Gamelan, a traditional music ensemble, practice. Over time, it has evolved into a sustainable programme with private-public-community partnership at its heart, being met with overwhelming enthusiasm and support from both participants and local government officials alike.

As previously mentioned, the occasion through which increased dementia awareness is being built is practice sessions of the Gamelan, a traditional music ensemble which holds great cultural significance in Bali, and particularly Pinda village where this project is being held. Not only is playing the instruments considered a leisurely activity, but it is also widely regarded as a religious act. However, there seems to be a lack of available opportunities for retired musicians/gamelan players to engage in Gamelan practice. Thus, this Melody Memory Project, also referred to as MMP, gave these retired elderly the opportunity to engage in an activity which is enjoyable, socially interactive, and yet can also enhance cognitive function.

MMP was officially kicked off on Indonesia’s National Elderly Day (HLUN) 2021. Though there were only 30 participants (ages 58-77 yo) officially registered in the programme, many other village elderly showed up during practice sessions and health screenings, making each occasion even more lively. The plan was for there to be a weekly gamelan practice conducted at the Pinda village community centre, in Gianyar, Bali. Each session would be preceded with dementia awareness session (e.g. sharing the 10 early signs of Alzheimer’s, brain gym) by ALZI Ned volunteers. There would be health screenings once every two weeks (i.e. blood pressure/ blood sugar check, hearing problem) and a cognitive assessment would be conducted twice (at the beginning and end of the programme) using the Mini Mental State Examination (MMSE).

Of course, this is what we at ALZI Ned planned would happen. MMP faced many unanticipated hurdles and roadblocks in the form of regional lockdowns and PPKM measures (restrictions imposed during the pandemic by the government) which meant practice sessions were not allowed to occur. Regardless, these setbacks did little to dampen the spirits of the elderly, who enthusiastically returned to practice when these restrictions were finally lifted. Ten practice sessions (each for 2 hrs), 6 health screenings (in collaboration with ALZI Ned, ALZI Bali, and local ‘puskesmas’ public health centre volunteers) and 3 performances (in commemoration of World Alzheimer Month and HLUN) were conducted in cooperation with the local government authorities.

All of these occasions provided opportunities for us to not only reach the elderly who participated, but also to raise awareness amongst the village officials and other village residents who came to witness the performances/take part in the health screenings, as well as conduct risk reduction brain gym activities. MMP also witnessed intergenerational collaboration when the youth were tasked to perform traditional Balinese dances whilst the elderly played the Gamelan. Overall, the success of this programme can be entirely attributed to the community partnership which took place. Between local village officials, volunteers from the public health centre, the village elderly and youth, as well as the local ‘sanggar’ dance group, MMP has enabled strong collaboration amongst these community members. As such, MMP has evolved from being facilitated by ALZI Ned to something that has officially been adopted into the village agenda. Further continuity of this now sustainable programme will be supported by the government, and local village officials have also pledged their commitment to providing a place for dementia screenings to be conducted twice a year.

Due to the success of MMP in Bali, ALZI Ned is in the process of adopting this programme in other regions of Indonesia. Though the programme in Bali cannot be entirely replicated as different elderly communities in Indonesia have certain cultural differences which require varying approaches. At present, we have kick started MMP in Yogyakarta in collaboration with the local arts foundation and Gadjah Mada University. So don’t forget to look out for future updates and performances from the elderly of Melody Memory Project! See you in Jogja!

Happy Healthy Kartini (HHK) – 14 Mei 2022 – Groningen Bangkit dan Bercahaya!- Groningen sta op en schitter!

BAHASA INDONESIA:

Agenda HHK 2022 berlangsung meriah pada hari Sabtu, 14 Mei 2022 dan dihadiri lebih dari 200 pengunjung. Pertunjukan tari, band akustik, mini talk shows, parade puisi, mode show hingga line dance menjadi bagian dari agenda ini. Acara yang dipandu oleh duet volunteer ALZI Ned dan mahasiswa dari Groningen dibuka dengan doa oleh pimpinan Leger des Heils, Groningen. Agenda talk shows dengan Stichting EFATA Indonesia, PPI Groningen, serta koordinator Alzheimer Nederland Groningen memberi wawasan tentang peran organisasi di Belanda untuk membantu komunitas Indonesia baik di Belanda maupun di Indonesia, serta menjajaki kemungkinan kerja sama bertemakan seni budaya di Belanda. HHK 2022 menjadi:

– wadah bagi Stichting EFATA untuk menggalang dana bagi program peduli anak di Indonesia,
– media promosi PPI Groningen untuk agenda Indonesian Day,

– panggung bagi komunitas Indonesia untuk memperlihatkan talentanya,

– dan juga sebuah momen bagi ALZI Ned untuk memperkenalkan tentang demensia dan melakukan soft launch buku keduanya yang berjudul “Kehilangan dan perpisahan dalam demensia”.

HHK 2022 juga menjadi saksi bangkitnya usaha kecil menengah (UKM) baik di bidang kuliner, budaya maupun jasa. Berbagai macam makanan dan minuman khas Indonesia bisa ditemukan dalam acara ini, seperti sate ayam, bakso, pempek, lumpia, lemper, es cendol dan masih banyak lagi. Pelaku UKM di bidang pakaian, fotografi, dan jasa pijat juga berpartisipasi dalam kegiatan kali ini.

HHK 2022 bisa terlaksana dengan baik berkat kerjasama manis antara organisasi di Groningen seperti, ALZI Ned, EFATA Indonesia, PPI Groningen, serta Leger des Heils Groningen, yang telah menyediakan lokasi serta perlengkapan untuk agenda kali ini. Selain itu, support dari diaspora, masyarakat Indonesia, pelaku UKM, serta kehadiran perwakilan dari organisasi setempat seperti Stichting WIJ Groningen dan Alzheimer Nederland regio Groningen membuat acara ini menjadi lengkap.

Terima kasih untuk seluruh panitia, Siti Dans, Katering Groningen, Dapur SRI, Aneka Jajanan Ibu NENG, Titik Wahyuni Photography, Massage Assen By Della, TASIA Batik, Group Cinta Nusantara, seluruh sukarelawan dan pengunjung HHK 2022. Sampai jumpa tahun depan!!

NEDERLANDS:

Happy Healthy Kartini (HHK) – 14 Mei 2022

Groningen sta op en schitter!!

De agenda van HHK 2022 is op zaterdag 14 mei levendig uitgevoerd en werd door meer dan 200 bezoekers bijgewoond. Dansoptredens, akoestische bands, mini talk show, poëzie, modeshows en line dans maakten deel uit van deze agenda. Het evenement, dat werd begeleid door een duo, een vrijwilliger  van ALZI Ned en een studente uit Groningen, werd geopend met een gebed door de leider van het Leger des Heils – Groningen. De talk shows met de Stichting EFATA Indonesia, PPI Groningen, en de coördinator van Alzheimer Nederland Groningen, gaven inzicht in de rol van deze organisaties in Nederland om de Indonesische gemeenschap in Nederland en Indonesië te helpen. Ook verkenden deze talk shows de mogelijkheid van samenwerking met het thema kunst en cultuur in Nederland. HHK 2022 is:

– een plek voor de Stichting EFATA om donatie te werven voor kinderprogramma’s in Indonesië,

– een platform voor de PPI Groningen om het Indonesian Day evenement te promoten,

– een podium voor de Indonesische gemeenschap om hun talenten te laten zien, en

– een moment voor ALZI Ned om het onderwerp over dementie te delen en de soft launch van zijn tweede boek getiteld “Kehilangan dan perpisahan dalam demensia” te doen.

De 2022 HHK was ook getuige van de opkomst van kleine en middelgrote ondernemingen (UKM) in de culinaire, culturele en dienstensector. Verschillende soorten Indonesisch eten en drinken waren op dit evenement te vinden, zoals kipsaté, bakso, pempek, lumpia, lemper, es cendol, en nog veel meer. UKM ondernemers op het gebied van traditional kleding, fotografie, en massage diensten namen ook deel aan deze activiteit.

De HHK 2022 was goed uitgevoerd dankzij de fijne samenwerking tussen de organisaties in Groningen zoals ALZI Ned, EFATA Indonesia, PPI Groningen, en Leger des Heils – Groningen. Laats genoemde organisatie heeft de locatie en apparatuur voor dit evenement ter beschikking gesteld. Daarnaast maakten de steun van de diaspora, Indonesische gemeenschap, UKM ondernemers, en de aanwezigheid van vertegenwoordigers van lokale organisaties zoals Stichting WIJ Groningen en Alzheimer Nederland regio Groningen dit evenement compleet.

Bedankt aan de werkgroep, Siti Dans, Katering Groningen, Dapur SRI, Aneka Jajanan Ibu NENG, Titik Wahyuni Photography, Massage Assen By Della, TASIA Batik, Cinta Nusantara Group, alle vrijwilligers en bezoekers van HHK 2022. Tot volgend jaar!!

Manik Madijokromo – Kharismayekti

Atas nama panitia HHK 2022

Bezoek ALZI Ned aan Rumah Kita – Kunjungan ke Rumah Kita

(Nederlands)

Bezoek ALZI Ned aan Rumah Kita

Op 8 februari 2022 ben ik samen met de voorzitter van Alzheimer Indonesia Nederland (ALZI Ned) op bezoek geweest bij het verpleeghuis Rumah Kita in Wageningen. Rumah Kita, hoort bij zorg groep Zinzia, is een verpleeghuis special opgezet voor Indische en Molukse ouderen. Dit jaar is Alzi Ned van plan om de Indische verpleeghuizen in Nederland te bezoeken, om ons netwerk binnen Nederlandse verpleeghuizen te verbreiden, om hen bekend te maken met de activiteiten van Alzi Ned en eventueel om een samenwerking te starten.

Als een arts uit Indonesie en een specialist ouderengeneeskunde (SO) in opleiding, wil ik straks als een specialist mijn aandacht richten op multiculturele zorg en cultuur sensitief zorg binnen de ouderenzorg. Hierdoor wilde ik eigenlijk mijn derde jaar stage bij Rumah Kita gaan doen. Helaas hebben ze dit jaar geen stageplek. Maar wie weet zodra ik klaar ben kan ik hier werken als SO. Dus al in al was ik heel erg enthousiast over dit bezoek en ik was heel erg benieuwd met wat ik van dit bezoek kan leren.

Ouderenzorg in Nederland

Even kort over ouderenzorg in Nederland. Nederland is een van de landen met een goed georganiseerd ouderenzorg. Kwetsbare ouderen die niet meer thuis kunnen wonen van wege dementia en/of complexe lichamelijke problemen (bijv. na een CVA, gevorderde Parkinson of meervoudig lichamelijk problematiek) worden in een verpleeghuis opgenomen. Hier krijgen ze 24/7 zorg. In het verpleeghuis wordt de zorg verleend door een team van verzorgers en verpleegkundige in samenwerking met paramedicus (zoals psycholoog, fysiotherapeut, ergotherapeut en logopedist) en een specialist ouderengeneeskunde (SO). De SO is dan de eindverantwoordelijke voor de medische zorg in het verpleeghuis. De (medische) zorg in het verpleeghuis sluit aan op de behoefte van patiënten en richt zicht vooral op het verbeteren van de kwaliteit van leven en welbevinden van de cliënten. 

De Indische sfeer (en geur) in Rumah Kita

Als een SO in opleiding ben ik redelijk gewend met de “rustige” sfeer in Nederlandse verpleeghuizen. Maar Rumah Kita heeft duidelijk een ander sfeer! Het is niks voor niks beroemd en bekend als het grootste Indische en Molukse verpleeghuis in Nederland.

Voor de hoofdingang stond een Becak! Deed me bijna denken aan binnen komt bij een Indische restaurant!. Toen ik binnenliep, voelde ik direct de bekende Indische sfeer. De bekende Indische gezelligheid en gemoedelijke sfeer. Ik zag mensen rondlopen met glimlach op hun gezicht en keken vriendelijk naar ons. Het was bijna niet mogelijk om onderscheid te maken tussen clienten, medewerkers en bezoekers. Het is zo’n georganiseerd en gezellig Indonesische chaos die herken!

Ook opvallend was de Toko tegen over de hoofdingang, uiteraard een onmisbaar element voor Indische mensen. Bovendien werd mijn neus direct geprikkeld door de bekend geur! De geur van Indische kruiden en het Indische eten. Later vertelde onze gastvrouw ons dat Rumah Kita bewust heeft gekozen om het eten in huis te laten koken om juist de familiare geur van Indische kruiden te behouden. Want de geur van Indische kruiden hoort bij elke Indisch huis!

Al en al het voelde direct als thuis! Zoals bij opa en oma thuis op bezoek.

Tour de Rumah Kita

Zodra ik binnenkwam, werd ik verwelkomd door Monique van Brugge, muziektherapeut bij Rumah Kita en onze gastvrouw voor vandaag. Amalia is al eerder gearriveerd! Volgens mij waren we alle twee heel erg enthousiast met dit bezoek. Fun fact, dit is de eerste keer dat ik Amalia fysiek heb ontmoet (dankzij Corona). Manik kon helaas niet komen vanwege thuisquarantaine.

Even iets over Monique. Monique heeft Javaans achtergrond, ze is in Nederland geboren en haar ouders naar Nederland gekomen na de oorloog. In 2016 is ze gepromoveerd op het gebied van muziektherapie bij de ziekte van Huntington. Naast haar werk als muziektherapeut bij Rumah Kita, werkt ze als onderzoeksters en projectleider in Den Haag. Daarnaast is ze een gitaar docent bij het conservatorium in Enschede. Tevens geeft ze vaak lezing in Indonesia en ze accepteert ook vaak Indonesische stagiaires op Rumah Kita.

Het is onmiskenbaar dat naast haar passie als een muziektherapeut Monique een duidelijk belangstelling om terug te geven aan Indische en Molukse gemeenschap in Nederland heeft, met name voor de kwetsbare ouderen.

Na onze kennismaking, nam Monique ons voor een tour de Rumah Kita

De rondleiding begon bij de bibliotheek. Hier vertelde Monique ons dat bijna alle boeken in de bibliotheek zijn gedoneerd door de bewoners van Rumah Kita. Als iemand in een verpleeghuis komt wonen, moet zij/hij hun huis verlaten. Ipv de boeken naar de Kringloop of boekenmarkt weg te brengen, hebben de bewoners van Rumah Kita hun boeken meegenomen en gedoneerd aan de bibliotheek van Rumah Kita. Hoe mooi is dat! Nu kan iedereen genieten van deze waardevol schat!

Rumah Kita levert zorg voor clienten met dementie, ouderen psychiatrische problemen en clienten met uitgebreide lichamelijk problematiek. Aan de voorkant en zijkant van het gebouw zijn er 4 verdiepingen met appartementen voor cliënten met lichamelijk problematiek (somatische afdelingen) en ouderen met psychiatrische klachten (gerontopsychiatrie afdelingen). Aan de achter kant zijn kleinschalige woningen voor cliënten met dementie (psychogeriatrie (PG) afdelingen). In het midden van het gebouw is een groot restaurant. Hier eten de clienten en na hun etenstijd mogen bezoekers hier ook eten (disclaimer: het eten hier is LEKKER!!). Achter het restaurant is een binnen tuin met een Indische gazebo in het midden.

De Indische sfeer op Rumah Kita was niet alleen invoelbaar maar was ook duidelijk te zien van de inrichtingen. Nogmaals het was bijna zoals bij opa en oma thuis, maar veel groter!

Er is een grote kaart van Indonesië op de lange muur met daarop de geboorteplaats van de bewoners gemarkeerd. In het restaurant hangen 2 grote vliegers (layang-layang), op de muur is er een grote vitrinekast met kleine decoraties uit Indonesie en uiteraard wajangpoppen zijn ook zichtbaar. Tegen over de keuken is er een bakso karretje met een beer Bintang kraat bovenop (foto 2). Ook zijn er een becak en een angklung set zichtbaar.

Ongeopende koffers

Bij Rumah Kita zagen we opvallend veel stapels van ongeopende koffers. Deze koffers hebben veel betekenis binnen de Molukse gemeenschap in Nederland, aldus Monique. Na de oorlog vertrokken veel Indisch naar Nederland met de gedachten dat ze zo snel mogelijk weer terug konden. Althans dat was de belofte van de Nederlandse overheid. Met deze gedachten hadden ze hun koffers niet geopend, want ze konden ieder moment teruggaan naar hun geboorteland. Helaas heeft de Nederlandse overheid hun belofte nooit waargemaakt en ze moesten hier voor altijd blijven wonen. Veel mensen van deze generatie wonen nu op Rumah Kita en daarnaast zijn er ook een aantal KNIL-veteranen. Veel van deze clienten kampen met post-traumatische stresssyndroom.

Er werd Indonesische gesproken

Voor mij voelde het heel speciaal om, hier in een Nederlands verpleeghuis, mensen in het Indonesische te horen praten! Ineens begreep ik alles wat ze zeiden, hoef ik niks te denken wat ze ermee bedoelde. Voor een van de pg-woningen, kwam een meneer naar ons toe en begon hij met mij in het Indonesisch te kletsen. Hij schrok toen ik in het Indonesische terugpraat! Waarna reageerde hij met “aku cinta kamu” (ik hou van jouw). Ik moest heel hard lachen!  En toen ging hij verder met een Indonesische liefde liedje te zingen. In het restaurant, kwam een mevrouw naar mij toe en zei dat ze “hosa” (benauwd) is. Ook hoorde ik een boze mevrouw in het Molukse schelden! Gelukkig wist niemand wat ze er mee bedoelde. 😉

Meer vrijheid voor cliënten met dementie

Het viel me op, als een SO in opleiding, dat hier in Rumah Kita lopen clienten met dementie rond! Ze lopen rond in het restaurant, de lobby en soms ook naar binnen bij de kantoren van de artsen, paramedicus of de manager. Ook de clienten van gerontopsychiatrie afdeling lopen rond. Ze lopen rond tussen de bezoekers, medewerkers en andere clienten van somatische afdeling. Heel anders dan wat ik gewend ben in andere verpleeghuizen. In een conventionele pg-verpleeghuizen is er meestal een deur tussen de somatische afdelingen en de PG-woningen. En bij elke PG-woningen is er een gesloten deur. Deze deuren kan je alleen open maken met een code. Deze “gesloten afdeling” kan wel naar klinken. Maar het is puur voor veiligheid, namelijk om te voorkomen dat cliënten weglopen of dwalen naar andere afdeling toe.

In Rumah Kita is het niet zo! Er is geen deur tussen PG en somatiek afdelingen, het hoeft ook niet want de somatische afdelingen zitten op de 1e t/m de 3e etage. Maar ook de deuren van de PG-woningen in Rumah Kita blijven overdag open! Hierdoor hebben cliënten met dementie meer bewegingsvrijheid. Maar als een arts moest ik toch vragen “lopen de cliënten dan niet weg??” Nee! Want Rumah Kita heeft een slimme technologie toegepast om dit te voorkomen. Cliënten die de neiging hebben om weg te lopen, kregen een chip in de schoenen of kleren waardoor zodra ze bij de hoofdingang staan, de deuren niet opengaan. Een slimme manier om meer vrijheid te bieden en tegelijkertijd veiligheid te waarborgen. Hoe mooi is dat!

Gesprek met Ton de manager van Rumah Kita

Aansluitend op de rondleiding, hebben we een gesprek gehad met Monique en Ton van Eldonk (locatie manager van Rumah Kita). Amalia, de voorzitter van ALZI Nederland, heeft ALZI Nederland aan Ton geïntroduceerd. En Ton vertelde ons meer over Rumah Kita, o.a. achtergrond, visie-missie en de huidige ontwikkeling van Rumah Kita. Rumah Kita was bezig met een verbouwing om meer ruimte en capaciteit te creëren voor cliënten. In maart hebben we gehoord dat de verbouwing nu rond is en Rumah Kita klaar is om meer mensen te ontvangen in hun splinternieuwe afdelingen! De huiskamers zien er supermooi uit! (zie foto)

Om in Rumah Kita te wonen, moet een cliënt iets hebben met Indonesie of voormalig Nederlands-Indie, bijvoorbeeld daar geboren, een van de ouders is daar geboren, of getrouwd is met iemand met Indisch/Moluks afkomst. We hadden ook een discussie over het verschil tussen Indische, Molukse en Indonesische mensen, welke gevoelig kan zijn voor mensen van de “oude” generatie oftewel voor de huidige bewoners. Opvallend was dat in Ton zijn kamer een kaart van Oost-Indie hangt en een foto van Koningin Juliana! Als of de tijd stil stond in Rumah Kita. Uiteindelijk zijn we overeengekomen dat naast het mogelijk verschil, er voldoende overlap in gewoonte en cultuur is.

Belangrijk van dit kennismakingsgesprek is dat Rumah Kita en Alzi Ned de mogelijkheid zien om in de toekomst samen te werken! Dus hee…doel bereikt!!

Lekker eten en miniconcert

Over dezelfde gewoonte gesproken, eten hoort bij elke bezoek aan een Indische huis. Dus ook bij het bezoek op Rumah Kita. Na het kennismakingsgesprek, werden we hier getrakteerd!! Lekker!!

We mogen kiezen tussen nasi-, bami goreng en gado-gado. Moeilijk keuze! Dus hebben we samen besloten om alle drie te bestellen en samen te eten. Het eten was HEERLIJK!!

Daarna gingen we door met laatste stukje van rondleiding. We gingen binnenkijken bij een appartement van een cliënt. En wat kregen we hier… een impromptu mini live concert door Monique en Jon!!  

Het bezoek eindigde met een bezoek bij de Toko. Het moest gewoon! Ik heb daar heerlijke sambal gekocht, een lekkere spekkoek en kroepoek Palembang.

Amalia en ik waren heel erg blij met dit bezoek op Rumah Kita. Wie weet kan ik hier binnenkort weer terugkomen om als SO te werken!

Liefs,

dr. Dara R. Pabittei

Specialist Ouderengeneeskunde i.o

(Bahasa Indonesia)

Kunjungan ke Rumah Kita

Pada tanggal 8 februari, saya bersama Ketua ALZI Nederland Kak Amalia Fonk, berkesempatan mengunjungi verpleeghuis (panti wreda) Rumah Kita di Wageningen. Rumah Kita berada dibawah organisatie zorg groep Zinzia. Yang khas dari Rumah Kita ini adalah, panti wreda ini khusus untuk orang Indo (Indische) dan Maluku (Moluks) di Belanda. Kunjungan Alzi Ned ke Rumah Kita ini termasuk ke dalam rangkaian kunjungan ALZI Ned ke panti-panti wreda di Belanda yang khusus untuk orang-orang keturunan Indonesia, dengan tujuan sosialisasi Alzined dan kegiatan-kegiatannya, networking dan tentunya membuka peluang kerjasama.

Sebagai residen Specialist Ouderengeneeskunde atau geriatri (kedokteran untuk orang tua), saya sudah menunggu-nunggu kunjungan ke Rumah Kita ini. Nantinya sebagai spesialis saya ingin focus ke pelayanan kesehatan multicultur. Saya sempat berharap bisa menjalani stase tahun ketiga pendidikan spesialis saya di Rumah Kita, tapi sayang untuk saat ini mereka tidak ada tempat untuk stase. Gak papa, insyaallah one day ada rejekinya bisa bekerja di Rumah Kita sebagai dokter specialist.

Pelayanan kesehatan orang tua di Belanda

Sedikit mengenai pelayanan kesehatan orang tua di Belanda. Belanda adalah salah satu negara dimana pelayanan kesehatan untuk orang tua sudah tertata dengan baik. Orang tua yang sudah tidak bisa lagi tinggal dirumah karena alasan kesehatan baik itu demensia atau karena keterbatasan kesehatan fisiknya (post stroke, Parkinson, dan multiple and complex diseases lainnya) biasanya masuk ke panti wreda untuk mendapatkan pelayanan kesehatan selama 24/7. Di panti wreda ini ada perawat, paramedis seperti psycholoog, fysiotheapist, ergotherapist, logopedist dan music therapist. Tim ini diketuai oleh dokter specialis kedokteran orang tua. Pelayanan kesehatan di panti wreda ini disesuaikan dengan kebutuhan klient.

Kentalnya suasana dan aroma Indonesia

Sebagai dokter saya sudah terbiasa dengan suasana panti wreda Belanda, yang tenang dan teratur. Kalau ukuran Indonesia mungkin cenderung agak steril dan terlalu tenang . Hal ini sangat berbeda dengan Rumah Kita. TIdak heran Rumah kita terkenal sebagai panti wreda Indo dan maluku terbesar di Belanda. Disini suasana Indonesia atau Indo sangat terasa.

Di depan pintu gerbang ada becak (sempat bingung ini masuk panti wreda atau mau masuk resto Indonesia. Begitu saya masuk ke Rumah Kita, suasana Indonesia langsung terasa. Orang-orang di lobby semua sangat ramah, people were smilling at us and very welcoming. Heel gezellig kalau kata orang belanda! Sulit untuk mengetahui yang mana klient, yang mana pembesuk dan pekerja di Rumah Kita. It was some sort of organized chaos but in a nice way.

Begitu masuk ke Rumah Kita mata saya langsung tertuju ke Toko!! Iya ada toko disini!! Jadi tambah bingung ini panti wreda atau resto hehehe. Dan yang tidak ketinggalan, hidung saya langsung menghirup aroma yang sangat khas! Aroma bumbu masakan Indonesia. Semuanya sangat familiar, seperti mengunjungi rumah opa dan oma belanda saya.

Tour de Rumah Kita

Setiba saya di Ruma Kita, saya disambut oleh host kami untuk hari itu, Monique van Brugge. Kak Amalia sudah tiba duluan. Seharus kak Manik juga hadir, tapi karena harus karantina di rumah beliau jadi tidak bisa ikut.

Saya ingin bercerita sedikit mengenai Monique. Monique, berketurunan Jawa dan bekerja sebagai music therapist di Rumah Kita. Di tahun 2016 Monique menyelesaikan PhDnya di Leiden di bidang music therapy untuk Huntington disease. Selain itu beliau juga bekerja sebagai researcher dan project leader di Den Haag. Dan beliau juga bekerja sebagai dosen gitar di Konservatorium di Enschede. From time-to-time dia pergi ke Indonesia untuk memberikan lecture mengenai pengaruh music therapy untuk otak. Beliau juga sering menerima student dari Indonesia yang stase di Belanda. Clearly, Monique is not only a very passionate music therapist, she is really willing to contribute to the Indo en Moluks communities in the Netherlands and also to Indonesia.

Tour dimulai di perpustakaan. Monique menjelaskan bahwa buku-buku di perpustakaan ini Sebagian besar adalah sumbangan dari para klien Rumah Kita. Bukannya dijual ke pasar loak, klient-klient rumah kita menyumbangkan bukunya ke Rumah Kita, sehingga semua orang dapat menikmati koleksi-koleksi berharga mereka.  Di bagian depan dan samping ada bangunan 4 tingkag dengan apartemen-apartemen untuk klien dengan masalah kesehatan fisik dan psikis. Sedangkan di bagian belakang adalah bagian untuk pasien dengan demensi. Di tengah-tengah ada restautant besar. Restauran ini mainly untuk klient, tapi setelah jam makan siang klient, pengunjung boleh makan siang disini. Di belakang restaurant, dan di tengah2 banguna RK ada taman besar dengan pendopo di tengah2nya.

Suasana Indonesia tidak saja terasa, namun juga bisa kita lihat di setiap sisi rumah Kita. Di salah satu dinding ada peta besar Indonesia dengan tempat kelahiran para klient. Di restaurant tergantung dua layang-layang besar dan wayang kulit. Ada juga lemari besar berisi pernak-pernik dari Indonesia. Di seberang dapur ada gerobak bakso. Dan ada juga seperangkat angklung dan becak.

Tumpukan koper

Hampir di setiap sudut RK terdapat tumpukan koper yang tidak terbuka! Hal ini menarik perhatian kami. Monique menjelaskan tumpukan koper tidak terbuka ini mempunyai arti sangat mendalam untuk komunitas Maluku di Belanda. Setelah kemerdekaan Indonesia, banyak orang Maluku harus pergi Belanda. Sebelum mereka pindah ke Belanda, mereka diberi janji oleh pemerintah Belanda bahwa mereka akan segera kembali ke Maluku. Having in mind, they kept their suitcases unopened, agar kapan pun mereka bisa segera pulang ke Maluku. Sayangnya janji ini tidak pernah ditepati.

Banyak klient dari generasi ini sekarang tinggal di Rumah Kita. Selain itu banyak juga ex-Knil yang sekarang tinggal di RK. Banyak diantara mereka yang menderita post-traumatic stress syndrome.

Bahasa Indonesia

Buat saya sebagain dokter Indonesia di Belanda, sangat special rasanya mendengar pasien-pasien berbahasa Indonesia. Tiba-tiba saya ngga harus mikir apa ya maksudnya pasien ini. Langsung ngerti! Ada seorang bapak yang mengajak saya berbicara dalam Bahasa Indonesia dan kaget begitu saya membalas dalam Bahasa Indonesia. Setelah itu langsung bapak itu langsung bilang “aku cinta kamu” dan melanjutkan dengan bernyanyi lagu Indonesia! Ada juga ibu dating ke saya dan mengeluh kalau dia “hosa” (sesak). Dan ada seorang bu yang ngomel-ngomel dalam bahasa Maluku. Untung gak banyak yang tau apa yang ibu itu katakan. 😉

“Kebebasan” untuk klien dengan demensi

Satu hal yang langsung menarik perhatian saya adalah, di RK klien-klien dengan demensi bebas berjalan kemana saja di dalam RK. Mereka bebas berjalan di restaurant, lobby dan kadang juga masuk ke dalam ruangan kantor manajer, dokter dsb. Mereka berjalan bebas di antara klien-klien lain, diantara pengunjung dan pekerja RK. Hal ini berbeda dengan panti wreda lainnya. Di panti wreda untuk klien dengan demensi (psychogeriatric (PG)), biasanya ada pintu berkode yang memisahkan bagian PG dan bagian untuk klient dengan kesehatan fisik. Dan di tiap-tiap bagian PG ada pintu yang hanya bisa dibuka dengan kode. Di belanda bagian PG ini biasanya dinamakan gesloten afdeling (bagian tertutup). Kedengarannya mengerikan, tapi  ini pure untuk alasan keamanan untuk mencegah klient keluar dari bagian atau keluar dari kompleks panti werda.

Di RK saya tidak  menemukan pintu pembatas antara PG dan bagian lain. Selain semua pintu di bagian PG pun terbuka selebar-lebarnya! Hal ini memudahkan klien-klien dengan demensi bebas berjalan keseluruh penjuru RK. Bahkan tidak jarang masuk ke kantor-kantor dokter, paramedis dan manajer. Keuntungannya klien-klien ini menjadi lebih tenang, karena mereka bisa berjalan sepanjang hari!

Tentunya saya harus bertanya, apa ngga takut mereka kabur? Monique dan Ton (manajer RK) menjelaskan bahwa RK menerapkan smart teknologi untuk mencegah hal ini. Beberapa klien yang ada kecenderungan untuk keluar diberi chip di sepatu atau bajunya. Begitu mereka sampai di pintu gerbang utama, pintu ini tidak akan terbuka!

Selain itu juga penting untuk semua orang yang bekerja di Rumah kita untuk mengenal setiap klien. Sehingga apabila ada klien yang “nyasar” bisa dituntun kembali ke kamarnya.

Meeting with Ton manager Rumah Kita

Setelah satu jam tour kami pun berkesempatan bertemu Ton van Eldonk manajer RK. Dalam pertemuan ini, kak Amalia memperkenalkan ALZI Ned kepada RK, kegiatan-kegiatan ALZI Ned dan kami juga berbicara mengenai peluang kerjasama. Ton menjelaskan mengenai latar belakang dan sejarah dan RK. Beliau juga menambahkan bahwa RK sedang berada di tahap akhir renovasi untuk memperbesar kapasitasnya.  Di awal Maret kami mendapat kabar bahwa renovasi ini sudah selesai, dan RK siap menerima klien-klien baru.

Ton juga menjelaskan bahwa klien harus memiliki hubungan dengan Indonesia untuk bisa tinggal di Rumah Kita. Kami juga berbincang sedikit mengenai sejarah, mengenai perbedaan antara Indische (Indo), Moluks (keturunan Maluku) dan orang Indonesia. Untuk sebagian besar klien RK yang merupakan generasi setelah perang, perbedaan ini bisa menjadi isu sensitif.  Namun terlepas dari perbedaan yang mungkin ada, kami sepakat bahwa masih sangat banyak persamaan kultur dan kebiasaan. Yang juga menarik, di ruang kerja Ton tergantung peta “Oost Indisch” dan foto ratu Juliana! Seperti waktu berhenti di sini.

Yang terpenting, konklusi pertemuan ini adalah RK dan Alzi Ned melihat peluang kerja sama  in very near future!

Ditutup dengan makan dan mini live concert

Setelah meeting dengan Ton, kami dijamu makan siang di Rumah Kita. Kami boleh memilih antara nasi goreng, mie goreng atau gado-gado. Tentunya kami masing-masing memilih menu berbeda dan memilih makan tengah! Rasanya… jangan ditanya sangat Indonesia!!

Setelah makan, kami melanjutkan tour dengan Monique dan berkesempatan mengunjungi apartemen salah satu klien. To our surprise kami disuguhi live concert oleh Monique dan dhr J!

Kunjungan ditutup dengan belanja di Toko. Saya beli sambel, spekkoek dan kerupuk Palembang. Lumayan minggu ini gak usah belanja ke Toko lagi.

I really hope that one day I can go back and work here

Liefs,

Dara R. Pabittei (Nana)

Menua di Rantau

Oleh: Manik Kharismayekti – Science Team Alzheimer Indonesia Nederland

Senior dengan etnis minoritas dan tantangannya

Seperti janji saya di tulisan sebelumnya, saya akan menulis sesuatu yang berkaitan dengan kelompok senior dari kelompok minoritas. Terkadang kelompok minoritas di suatu daerah/ negara merupakan kelompok yang terpinggirkan, lebih rentan terhadap mis-informasi dan problem kesehatan. Sebagai contoh, ada sebuah artikel yang menyebutkan bahwa prevalensi penurunan kognisi dan demensia di mayoritas group migran di Belanda, 3 kali lebih besar daripada native orang Belanda1. Salah satu faktor yang mempengaruhi hal ini adalah adanya barier atau hal-hal yang membatasi penggunaan layanan kesehatan pada senior migran. Barier-barier tersebut antara lain:

  1. Barier bahasa dan komunikasi.

Ketidakmampuan berbahasa lokal dapat membuat orang merasa takut untuk berkomunikasi, kesulitan untuk bertanya maupun menerima/ mencerna sebuah informasi. Terkadang penolakan akan tindakan medis bisa disebabkan karena adanya kesalahan dalam mencerna informasi.

  • Perbedaan kultur.

Adanya perbedaan budaya dapat mempengaruhi perbedaan persepsi tentang layanan kesehatan. Misalnya ada persepsi, baik dari sisi budaya atau religi, yang mengungkapkan bahwa anak bertanggung jawab atas orang tua bila orang tua memasuki usia lanjut. Konsep ini mungkin dapat mempengaruhi kesempatan lansia untuk mendapatkan pelayanan nursing home/ panti wreda dan meningkatkan beban caregiver dalam melayani orang tua.

  • Pengetahuan tentang kesehatan.

Pengetahuan berkembang terus menerus. Ilmu 20 tahun yang lalu mungkin akan berbeda dengan tahun ini. Dahulu pikun dianggap sebagai sesuatu lumrah dan pasti terjadi pada orang tua. Namun, dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kita menjadi tahu bahwa pikun bukanlah hal normal dalam penuaan dan risiko pikun, yang merupakan suatu gejala demensia, ternyata bisa dikurangi. Sehingga penting adanya deteksi dini.

Orang Indonesia di Belanda

Ketertarikan saya dengan tema kelompok minoritas tidak lepas dari latar belakang saya sendiri. Saya orang Indonesia yang menikah dengan warga negara Belanda keturunan Jawa-Suriname. Setelah menikah, saya menetap di negeri kincir angin ini. Pada awalnya saya merasa khawatir akan kesepian tinggal di rantauan. Namun, walaupun minoritas, ternyata tidak sedikit orang dengan latar belakang Indonesia yang tinggal di Belanda.

Ada beberapa alasan mengapa orang bermigrasi dari Indonesia ke Belanda, seperti: repatriasi sekitar tahun 1945 – 19602,3; karena situasi politik di Indonesia pada tahun 1960-an4; menjalani studi dan kemudian mendapat pekerjaan di Belanda; menikah dengan orang Belanda; dan lainnya. Di sebuah artikel di tahun 2017 juga disebutkan bahwa ada lebih dari 1,7 juta diaspora Indonesia di Belanda5. Sebagian dari orang dengan latar belakang Indonesia ini akan menua di Belanda. Mungkin bukanlah suatu masalah dimana kita akan menua. Namun bukankah lebih baik bila kita mempersiapkan dan mewujudkan penuaan yang sehat dan sukses di mana kita tinggal.

Mempersiapkan dan mewujudkan penuaan yang sehat dan sukses di rantau

Seperti telah dituliskan di paragraf sebelumnya, ada beberapa barier yang bisa menghambat seseorang migran (terutama senior) untuk mendapatkan layanan kesehatan yang prima, yakni: bahasa, budaya serta pengetahuan. Di paragraf berikut, saya akan mencoba menuliskan cara yang bisa kita lakukan untuk mengurangi barier-barier tersebut berdasar pandangan saya.

  • Mengurangi barier bahasa dan komunikasi

Sebagai orang yang datang ke negara asing, ada banyak penyesuaian yang perlu dilakukan. Penyesuaian yang pertama adalah bahasa. Komunikasi yang saya gunakan dengan suami saya sebelum menikah adalah dengan bahasa Inggris dan bahasa Jawa. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, otomatis saya perlu berkomunikasi dalam bahasa setempat. Adanya kewajiban imburgering (kursus bahasa dan budaya Belanda) bagi orang asing yang akan tinggal menetap di Belanda sangat membantu saya dalam proses adaptasi dengan lingkungan. Menjadi volunteer di organisasi di lingkungan tempat tinggal juga bisa menjadi salah satu solusi untuk memperlancar bahasa lokal. Jangan malu untuk berbicara dengan bahasa asing walaupun kita belum mahir. Kemampuan berbahasa akan berkembang bila kita aktif menggunakannya.

  • Mengurangi barier budaya

Mempelajari budaya setempat sangat baik untuk membantu proses adaptasi. Dahulu saya terbiasa dengan ungkapan ‘jam karet’, tetapi di Belanda ketepatan akan waktu sangat dihargai. Saat membuat sebuah janji, kita diharapkan datang tidak terlalu cepat tetapi juga tidak terlambat – op tijd. Namun demikian, sebagai orang yang bermigrasi ke Belanda, rasa Indonesia tidak begitu saja lepas dari diri saya. Saya tetap suka masakan Indonesia, tetap berbahasa Indonesia dengan kawan dari Indonesia, bernyanyi lagu-lagu keroncong, dll. Proses adaptasi seseorang, dimana budaya lama dan budaya baru sama-sama dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari disebut proses integrasi. Kita mempraktekkan dan menghormati budaya yang baru tetapi juga tidak melepaskan budaya baik dari negara asal kita. Proses integrasi yang baik ini dapat mengurangi barier budaya.

  • Meningkatkan pengetahuan

Pengetahuan bisa didapat dari mana-mana, baik dari lembaga formal maupun informal, dari kelompok ataupun perorangan, dari media cetak maupun elektronik. Dan proses belajar itu berlangsung seumur hidup. Kita bisa pandai di suatu hal tetapi masih perlu belajar di lain hal. Bila kita masih malu untuk bertanya kepada orang asing, kita bisa bertanya melalui komunitas-komunitas Indonesia dimana Anda berada. Beruntung ada banyak komunitas orang Indonesia di Belanda, seperti: komunitas Indonesian Living in Holland di Facebook, komunitas pekerja migran Indonesia di Belanda, komunitas pelajar Indonesia, komunitas keagamaan, Alzheimer Indonesia Nederland dan masih banyak lagi. Melalui komunitas ini, masyarakat dengan latar belakang Indonesia di Belanda bisa mendapat informasi tentang bagaimana mencari kontrakan, informasi transfer finansial, beasiswa pendidikan, informasi tentang kesehatan/ demensia, hingga informasi dimana kita bisa membeli gudeg atau nasi padang hahahaha.

Selain upaya dari diri kita sendiri untuk melengkapi diri dengan kemampuan berbahasa, pengetahuan dan proses integrasi, saat ini juga telah ada upaya dari instansi kesehatan di Belanda untuk meminimalisir barier-barier tersebut. Kesulitan komunikasi akibat kendala bahasa dapat diatasi dengan adanya penterjemah. Tantangan budaya mulai diatasi dengan mengimplementasikan cultural-sensitive dalam layanan kesehatan. Pengetahuan akan kesehatan dapat terus di update melalui buku, majalah, website maupun seminar-seminar kesehatan. Harapannya layanan kesehatan yang prima dapat di akses semua lapisan masyarakat untuk mewujudkan penuaan yang sehat.

Saling tolong-menolong

Barier-barier yang saya sebutkan di atas, mungkin juga muncul di kelompok senior dengan latar belakang Indonesia di sekitar Anda. Mungkin di sekitar tempat tinggal Anda, ada senior Indonesia yang masih kesulitan dalam berbahasa lokal atau masih kesulitan dalam mengakses informasi atau layanan kesehatan. Mungkin Anda mengenal senior dengan latar belakang Indonesia yang jarang keluar rumah sehingga merasa kesepian dan pada akhirnya mengalami kemunduran. Yuk saling tolong menolong.

Komunitas Indonesia di negeri asing mempunyai juga peran dalam usaha peningkatan kualitas penuaan para senior dengan latar belakang Indonesia. Komunitas-komunitas Indonesia dapat saling bekerja sama untuk memberi support para senior dalam aspek sosial dengan memberikan wadah untuk saling silaturahmi dan berbagi informasi. Terkhusus melalui Alzheimer Indonesia Nederland, masyarakat Indonesia di Belanda dapat mengakses informasi terkait kesehatan di masa tua, demensia maupun Alzheimer serta berperan aktif melalui kerja volunteer.

Pada akhirnya, adalah pilihan kita masing-masing, dimana kita akan menikmati hari tua kita. Menjadi minoritas di suatu negara asing bukan lagi menjadi kendala bila kita saling mendukung satu sama lain. Tetap semangat mempersiapkan masa depan yang sehat, sukses dan bermanfaat.

Salam sehat dan Jangan Maklum dengan Pikun!

NB: Bila ada komentar terkait topik senior dengan latar belakang Indonesia di Belanda, silakan tuliskan melalui kolom comments atau kirimkan email ke: manik.alzi.ned@gmail.com

Daftar Pustaka

  1. J.L. Parlevliet, Ö. Uysal-Bozkir, M. Goudsmit, et al. Prevalence of mild cognitive impairment and dementia in older non-western immigrants in The Netherlands: a cross-sectional study. International Journal of Geriatric Psychiatry. 2016(31): 1040 – 1049.
  2. Bosma U, Alferink M. Multiculturalism and Settlement: The Case of Dutch Postcolonial Migrant Organisations. Journal of International Migration and Integration. 2011.
  3. Oostindie G. Postcolonial Netherlands: Sixty-five years of forgetting, commemorating, silencing: Amsterdam University Press; 2010.
  4. Kitamura Y. Long way home – The life history of Chinese-Indonesian migrants in the Netherlands. Wacana. 2017;18(1).
  5. https://id.indonesia.nl/update/berita/sosial-budaya/diaspora-belanda-siap-perkuat-kerja-sama-kesehatan-demi-indonesia

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑