Menua di Rantau

Oleh: Manik Kharismayekti – Science Team Alzheimer Indonesia Nederland

Senior dengan etnis minoritas dan tantangannya

Seperti janji saya di tulisan sebelumnya, saya akan menulis sesuatu yang berkaitan dengan kelompok senior dari kelompok minoritas. Terkadang kelompok minoritas di suatu daerah/ negara merupakan kelompok yang terpinggirkan, lebih rentan terhadap mis-informasi dan problem kesehatan. Sebagai contoh, ada sebuah artikel yang menyebutkan bahwa prevalensi penurunan kognisi dan demensia di mayoritas group migran di Belanda, 3 kali lebih besar daripada native orang Belanda1. Salah satu faktor yang mempengaruhi hal ini adalah adanya barier atau hal-hal yang membatasi penggunaan layanan kesehatan pada senior migran. Barier-barier tersebut antara lain:

  1. Barier bahasa dan komunikasi.

Ketidakmampuan berbahasa lokal dapat membuat orang merasa takut untuk berkomunikasi, kesulitan untuk bertanya maupun menerima/ mencerna sebuah informasi. Terkadang penolakan akan tindakan medis bisa disebabkan karena adanya kesalahan dalam mencerna informasi.

  • Perbedaan kultur.

Adanya perbedaan budaya dapat mempengaruhi perbedaan persepsi tentang layanan kesehatan. Misalnya ada persepsi, baik dari sisi budaya atau religi, yang mengungkapkan bahwa anak bertanggung jawab atas orang tua bila orang tua memasuki usia lanjut. Konsep ini mungkin dapat mempengaruhi kesempatan lansia untuk mendapatkan pelayanan nursing home/ panti wreda dan meningkatkan beban caregiver dalam melayani orang tua.

  • Pengetahuan tentang kesehatan.

Pengetahuan berkembang terus menerus. Ilmu 20 tahun yang lalu mungkin akan berbeda dengan tahun ini. Dahulu pikun dianggap sebagai sesuatu lumrah dan pasti terjadi pada orang tua. Namun, dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kita menjadi tahu bahwa pikun bukanlah hal normal dalam penuaan dan risiko pikun, yang merupakan suatu gejala demensia, ternyata bisa dikurangi. Sehingga penting adanya deteksi dini.

Orang Indonesia di Belanda

Ketertarikan saya dengan tema kelompok minoritas tidak lepas dari latar belakang saya sendiri. Saya orang Indonesia yang menikah dengan warga negara Belanda keturunan Jawa-Suriname. Setelah menikah, saya menetap di negeri kincir angin ini. Pada awalnya saya merasa khawatir akan kesepian tinggal di rantauan. Namun, walaupun minoritas, ternyata tidak sedikit orang dengan latar belakang Indonesia yang tinggal di Belanda.

Ada beberapa alasan mengapa orang bermigrasi dari Indonesia ke Belanda, seperti: repatriasi sekitar tahun 1945 – 19602,3; karena situasi politik di Indonesia pada tahun 1960-an4; menjalani studi dan kemudian mendapat pekerjaan di Belanda; menikah dengan orang Belanda; dan lainnya. Di sebuah artikel di tahun 2017 juga disebutkan bahwa ada lebih dari 1,7 juta diaspora Indonesia di Belanda5. Sebagian dari orang dengan latar belakang Indonesia ini akan menua di Belanda. Mungkin bukanlah suatu masalah dimana kita akan menua. Namun bukankah lebih baik bila kita mempersiapkan dan mewujudkan penuaan yang sehat dan sukses di mana kita tinggal.

Mempersiapkan dan mewujudkan penuaan yang sehat dan sukses di rantau

Seperti telah dituliskan di paragraf sebelumnya, ada beberapa barier yang bisa menghambat seseorang migran (terutama senior) untuk mendapatkan layanan kesehatan yang prima, yakni: bahasa, budaya serta pengetahuan. Di paragraf berikut, saya akan mencoba menuliskan cara yang bisa kita lakukan untuk mengurangi barier-barier tersebut berdasar pandangan saya.

  • Mengurangi barier bahasa dan komunikasi

Sebagai orang yang datang ke negara asing, ada banyak penyesuaian yang perlu dilakukan. Penyesuaian yang pertama adalah bahasa. Komunikasi yang saya gunakan dengan suami saya sebelum menikah adalah dengan bahasa Inggris dan bahasa Jawa. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, otomatis saya perlu berkomunikasi dalam bahasa setempat. Adanya kewajiban imburgering (kursus bahasa dan budaya Belanda) bagi orang asing yang akan tinggal menetap di Belanda sangat membantu saya dalam proses adaptasi dengan lingkungan. Menjadi volunteer di organisasi di lingkungan tempat tinggal juga bisa menjadi salah satu solusi untuk memperlancar bahasa lokal. Jangan malu untuk berbicara dengan bahasa asing walaupun kita belum mahir. Kemampuan berbahasa akan berkembang bila kita aktif menggunakannya.

  • Mengurangi barier budaya

Mempelajari budaya setempat sangat baik untuk membantu proses adaptasi. Dahulu saya terbiasa dengan ungkapan ‘jam karet’, tetapi di Belanda ketepatan akan waktu sangat dihargai. Saat membuat sebuah janji, kita diharapkan datang tidak terlalu cepat tetapi juga tidak terlambat – op tijd. Namun demikian, sebagai orang yang bermigrasi ke Belanda, rasa Indonesia tidak begitu saja lepas dari diri saya. Saya tetap suka masakan Indonesia, tetap berbahasa Indonesia dengan kawan dari Indonesia, bernyanyi lagu-lagu keroncong, dll. Proses adaptasi seseorang, dimana budaya lama dan budaya baru sama-sama dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari disebut proses integrasi. Kita mempraktekkan dan menghormati budaya yang baru tetapi juga tidak melepaskan budaya baik dari negara asal kita. Proses integrasi yang baik ini dapat mengurangi barier budaya.

  • Meningkatkan pengetahuan

Pengetahuan bisa didapat dari mana-mana, baik dari lembaga formal maupun informal, dari kelompok ataupun perorangan, dari media cetak maupun elektronik. Dan proses belajar itu berlangsung seumur hidup. Kita bisa pandai di suatu hal tetapi masih perlu belajar di lain hal. Bila kita masih malu untuk bertanya kepada orang asing, kita bisa bertanya melalui komunitas-komunitas Indonesia dimana Anda berada. Beruntung ada banyak komunitas orang Indonesia di Belanda, seperti: komunitas Indonesian Living in Holland di Facebook, komunitas pekerja migran Indonesia di Belanda, komunitas pelajar Indonesia, komunitas keagamaan, Alzheimer Indonesia Nederland dan masih banyak lagi. Melalui komunitas ini, masyarakat dengan latar belakang Indonesia di Belanda bisa mendapat informasi tentang bagaimana mencari kontrakan, informasi transfer finansial, beasiswa pendidikan, informasi tentang kesehatan/ demensia, hingga informasi dimana kita bisa membeli gudeg atau nasi padang hahahaha.

Selain upaya dari diri kita sendiri untuk melengkapi diri dengan kemampuan berbahasa, pengetahuan dan proses integrasi, saat ini juga telah ada upaya dari instansi kesehatan di Belanda untuk meminimalisir barier-barier tersebut. Kesulitan komunikasi akibat kendala bahasa dapat diatasi dengan adanya penterjemah. Tantangan budaya mulai diatasi dengan mengimplementasikan cultural-sensitive dalam layanan kesehatan. Pengetahuan akan kesehatan dapat terus di update melalui buku, majalah, website maupun seminar-seminar kesehatan. Harapannya layanan kesehatan yang prima dapat di akses semua lapisan masyarakat untuk mewujudkan penuaan yang sehat.

Saling tolong-menolong

Barier-barier yang saya sebutkan di atas, mungkin juga muncul di kelompok senior dengan latar belakang Indonesia di sekitar Anda. Mungkin di sekitar tempat tinggal Anda, ada senior Indonesia yang masih kesulitan dalam berbahasa lokal atau masih kesulitan dalam mengakses informasi atau layanan kesehatan. Mungkin Anda mengenal senior dengan latar belakang Indonesia yang jarang keluar rumah sehingga merasa kesepian dan pada akhirnya mengalami kemunduran. Yuk saling tolong menolong.

Komunitas Indonesia di negeri asing mempunyai juga peran dalam usaha peningkatan kualitas penuaan para senior dengan latar belakang Indonesia. Komunitas-komunitas Indonesia dapat saling bekerja sama untuk memberi support para senior dalam aspek sosial dengan memberikan wadah untuk saling silaturahmi dan berbagi informasi. Terkhusus melalui Alzheimer Indonesia Nederland, masyarakat Indonesia di Belanda dapat mengakses informasi terkait kesehatan di masa tua, demensia maupun Alzheimer serta berperan aktif melalui kerja volunteer.

Pada akhirnya, adalah pilihan kita masing-masing, dimana kita akan menikmati hari tua kita. Menjadi minoritas di suatu negara asing bukan lagi menjadi kendala bila kita saling mendukung satu sama lain. Tetap semangat mempersiapkan masa depan yang sehat, sukses dan bermanfaat.

Salam sehat dan Jangan Maklum dengan Pikun!

NB: Bila ada komentar terkait topik senior dengan latar belakang Indonesia di Belanda, silakan tuliskan melalui kolom comments atau kirimkan email ke: manik.alzi.ned@gmail.com

Daftar Pustaka

  1. J.L. Parlevliet, Ö. Uysal-Bozkir, M. Goudsmit, et al. Prevalence of mild cognitive impairment and dementia in older non-western immigrants in The Netherlands: a cross-sectional study. International Journal of Geriatric Psychiatry. 2016(31): 1040 – 1049.
  2. Bosma U, Alferink M. Multiculturalism and Settlement: The Case of Dutch Postcolonial Migrant Organisations. Journal of International Migration and Integration. 2011.
  3. Oostindie G. Postcolonial Netherlands: Sixty-five years of forgetting, commemorating, silencing: Amsterdam University Press; 2010.
  4. Kitamura Y. Long way home – The life history of Chinese-Indonesian migrants in the Netherlands. Wacana. 2017;18(1).
  5. https://id.indonesia.nl/update/berita/sosial-budaya/diaspora-belanda-siap-perkuat-kerja-sama-kesehatan-demi-indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: