Ceritaku mengikuti Alzheimer Europe Conference 2020 bersama ALZI Nederland

Oleh: Manik Kharismayekti – Science Team Alzheimer Indonesia Nederland

Alzheimer Europe Conference (AEC) yang diadakan secara online pada tanggal 20 – 22 Oktober 2020 telah selesai. Saya sangat senang bisa mengikuti agenda besar yang mendukung gerakan peduli demensia di Eropa ini. Untuk itu, kali ini saya akan membagikan pengalaman saya dari persiapan hingga bisa mengikuti konferensi ini.

Sejak tahun 2019 saya menjadi sahabat Yayasan Alzheimer Indonesia Nederland (ALZINed). Banyak program bermanfaat yang dilakukan oleh ALZINed yang sesuai dengan passion saya, terutama dalam hal memuliakan orang tua. Setelah saya menyelesaikan program master Vitality and Ageing dari Universitas Leiden, saya memutuskan untuk bergabung mendukung science team di organisasi ini. Mbak Amalia dan Mbak Tania pernah membagikan foto-foto keikutsertaan dan keceriaan mereka saat mengikuti AEC 2019 yang diadakan di Den Haag, Belanda. Mereka bercerita banyak hal seperti: bagaimana mereka bisa terlibat dalam konferensi tersebut, bagaimana cara mengirimkan abstrak penelitian/project, berkomunikasi dengan pemerhati demensia dari berbagai negara di Eropa; memperkenalkan budaya Indonesia kepada peserta konferensi dengan berdansa Poco-Poco bersama dan lain sebagainya. Cerita mereka menginspirasi saya untuk ikut terlibat di konferensi serupa pada tahun 2020.

Selain berpartisipasi dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh ALZINed, team science juga mempunyai tanggung jawab mempersiapkan materi yang bisa kami tulis baik menjadi abstrak, laporan kegiatan maupun bahan blog. Ketika informasi bahwa registrasi abstrak AEC 2020 telah dibuka, kami sangat antusias. Mengikuti kegiatan seperti AEC menjadi salah satu wadah ‘quality time’ antara team ALZINed dan pemerhati demensia di Eropa. Lima buah abstrak pada akhirnya berhasil kami kirim.

Kebahagiaan kami sedikit terganggu ketika Covid-19 menjadi pandemi. Beberapa kegiatan fisik tatap muka sebagai salah satu bentuk cara untuk menjalin silaturahmi dan wadah untuk mengumpulkan data bagi ALZINed harus dibatalkan. Penyesuaian perlu dilakukan, seperti mengganti agenda fisik menjadi online, mengubah paper questionnaire menjadi online questionnaire. Tidak mudah, tetapi ternyata kami mampu dan bisa melakukan penyesuaian tersebut (Program Online Series ALZINed sudah masuk seri ke-29😊). Disamping itu, kami juga bersyukur 5 abstrak yang telah dikirimkan, diterima di program AEC 2020. Kelima abstrak tersebut adalah:

  1. The PROKAA Project: Measuring the impact of Stichting Alzheimer Indonesia Nederland programs;
  2. Involving Indonesian students and association in The Netherlands;
  3. The responses of Pasar Indonesia Raya visitors after experiencing dementia virtual reality in The Netherlands;
  4. Well-being from an ageing and migration perspective of older persons with Indonesian background in The Netherlands;
  5. Adapting Alzheimer Nederland handbook ‘Dementie en nu?’ to Bahasa Indonesia.

AEC 2020 pada akhirnya diselenggarakan online. Di satu sisi kami sedih karena tidak bisa pergi bersama team ke Rumania mengikuti konferensi. Namun di sisi lain, kami bersyukur karena dengan diubahnya konferensi ini menjadi online, kami tidak perlu mengkhawatirkan travelling issue terkait pandemi,  bisa mengikuti konferensi dimanapun kami berada dan pastinya menghemat budget. Walaupun kami mengikut konferensi dari rumah masing-masing (team ALZINed mengikuti konferensi dari Groningen, Zoetermeer dan Bali), tetapi kami tetap berkomunikasi dengan team, seperti: membahas sesi mana yang akan diikuti, mana presentasi yang menarik, diskusi singkat setelah mengikuti sesi.  

Ada banyak topik menarik yang dibahas dalam konferensi 3 hari tersebut. Topik besar yang menjadi fokus AEC antara lain: layanan perawatan, aspek medis dan kesehatan masyarakat, orang dengan demensia dan kebijakan. Diskusi dan presentasi yang memperluas wawasan tentang pencegahan-diagnosis-terapi demensia, support post-diagnostic, minority ethnic group, komunitas ramah demensia, kesadaran publik hingga inovasi terkait Covid-19 dapat diikuti oleh partisipan. Karena saya tertarik dengan isu lansia migran, di blog selanjutnya akan saya ceritakan khusus tentang program-program untuk grup minoritas😉.

Apresiasi saya berikan kepada penyelenggara AEC 2020. Walaupun ada perubahan format acara (dari fisik menjadi online), acara dapat berlangsung tetap menarik. Ada live streaming diskusi panel yang kadang diselingi live music, live pooling, cerita inspiratif dari orang dengan demensia, presentasi melalui zoom meeting dan penampilan poster. Di setiap sesi acara, peserta konferensi bisa mengajukan pertanyaan/opini melalui chat box. Ingin membuat janji temu online dengan peserta lain atau berkirim email dengan pembicara juga mungkin dilakukan melalui platform online AEC 2020. Bagi saya, format online konferensi kali ini cukup mudah, nyaman untuk diikuti dan bisa mengakomodasi proses interaksi antar peserta, pembicara maupun sponsor.

Setelah mengikuti konferensi 3 hari tersebut, sebagai diaspora Indonesia yang ada di Belanda, saya semakin tertantang untuk berkontribusi di dalam gerakan peduli demensia ini, untuk Indonesia sekaligus untuk negeri Belanda. Terima kasih ALZINed, Alzheimer Indonesia dan Alzheimer Nederland yang telah memberi kesempatan yang berharga ini bagi saya.

Salam Jangan Maklum dengan Pikun!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: